Inilah Dilema Mahasiswa Ekonomi Semester 5 yang Tidak Tahu TA
TA? Titip Absen? Yakali gatau.
Rasa problem ini dirasakan oleh mahasiswa semester 5 yang ketika ditanya mengenai TA, atau kepanjangannya yaitu tax amnesty. Jadi, sore itu ketika mahasiswa tersebut berkumpul untuk rapat. Peserta rapat terdiri dari aneka macam jurusan, tak hanya anak ekonomi saja, namun juga ada anak – anak ibu lainnya. Suasana rapat yang awalnya hanya ketawa ketiwi, mendadak menjadi serius ketika seseorang mengangkat sebuah tema yang memang menjadi polemik ketika ini. Dan seketika di suasana yang serius itu, pertanyaan yang menjadi sebuah problem diantara kami tertuju kepada anak ekonomi tersebut.
Iya, kepada saya.
Mampus, kata yang tercetus dalam hati ketika itu. Menyesal, alasannya yaitu selama ini aku tak pernah baca berita, tak pernah peduli dengan isu – isu terkini. Isu yang padahal berkaitan bersahabat dengan apa yang telah dipelajari. Sesaat ada rasa ingin pause segala acara pada waktu itu, dan mulai membuka handphone untuk searching, atau mungkin call a friend menyerupai dalam kuis who wants to be millioner. Tapi apa daya, hidup yang dijalani ketika itu bukanlah mimpi, itu konkret coy. Semua orang menunggu tanggapan yang keluar dari verbal anak ekonomi ini.
Memang sih bukan tanggapan yang memuaskan. Saya telah mencoba menjawab semampunya. Namun dari semua tragedi diatas, aku mulai berpikir. Nah, berpikirnya aja gres mulai kini lol. Sebenarnya, apa sih yang telah aku pelajarin selama ini? Selama jadi anak ekonomi? Dari tiap malam jikalau ujian tiba selalu begadang? Hanya untuk mempelajari aneka macam macam cacing yang disebut dengan kurva?! SEBENARNYA APA SIH WOY.
Sebuah tamparan keras ketika itu. Dulu, sewaktu jaman putih debu – abu, mendengar kata “ekonomi” saja menciptakan ngantuk, apalagi ketika ingin mempelajarinya? Nilai UN terendah saja berada pada mata pelajaran ekonomi, tapi kenapa aku menentukan untuk masuk jurusan ini dan ingin mendalaminya? Kenapa?! Apa aku beneran salah jurusan, dan gres sadar ketika menginjak di semester 5?
Semua anggapan kecil itu menjadi – jadi sampai alhasil malas untuk mempelajari yang memang seharusnya untuk dipelajari, pastinya dengan berkedok “salah jurusan”. Dilema? Iya, dilema. Hingga alhasil ada seorang teman bilang bahwa, “Jangan jadikan bahwa salah jurusan menciptakan kau untuk malas mempelajari apa yang semestinya harus dipelajari, alasannya yaitu ini jurusan yang kau pilih. Iya, emang ini bukan sebuah passion. Saat ini, kau memang tak bisa kuliah dengan jurusan yang sesuai dengan hobby mu. Tapi yang harus diingat, bahwa kau kini punya banyak ilmu. Kamu bisa mendalami ekonomi, tapi juga bisa jalankan hobbymu.”
Yass. Ekonomi yaitu bonus. Coba bayangkan jikalau tak masuk jurusan ekonomi. Mana mau seorang Nurmalita ingin membaca berita, terlebih info ekonomi.
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar