Inilah Kisah Klasik Putih Abu - Abu
Dia yang ketika itu selalu bersemayam disetiap hari sabtu yang bertempat di aula. Entah apa yang beliau lakukan, saya juga tidak peduli. Karena memang bukan urusanku. Hari itu cukup ramai, namun sehabis agak siang daerah itu mulai sepi. Yang tersisa ya hanya para pengurus anak gajah yang sedang menghias dinding aula dengan beberapa tulisan. Aku ikut membantu para rekan ketika itu. Hingga balasannya beliau datang, numpang duduk di panggung, dan yang terakhir yaitu...saling bertegur sapa dengan para orang yang dikenalinya.
Kami pun mengobrol. Semacam basa bau biasa. Formalitas kok, damai saja. Dia yang ketika itu meletakan handphone berry hitamnya ke lantai, tak sengaja hampir ku injak. Meledaklah segala canda ketika itu. Hanya canda biasa. Formalitas kok, damai saja. Entah apa, kami pun membicarakan mengenai web pengurus anak gajah. Ketertarikan pada dunia blogging memang sudah ada, makanya ketika itu saya bertanya. Santai, ini bukan modus. Cuma tanya ingin tau ibarat biasa. Dan hingga balasannya beliau pun sepakat untuk membantu. Membantu biasa. Namanya juga orang baik, jika hanya membantu pastilah bisa. Santai saja.
Usai sudah segala seruan dan bala pinjaman yang ia berikan. Usai juga percakapan kami melalui pesan sms, pikirku ketika itu. Pesan yang kami kirim tidak jauh – jauh dari web pengurus anak gajah kok, damai saja.
Beberapa hari kemudian, sebuah pesan pun masuk. Dari dia. Hanya samar yang saya ingat ketika itu. Intinya, beliau hanya menegur sapa. Dengan pesan teramat sopan, diawali dengan sebuah salam, dan diselipi oleh tanda seru di final kalimat. Selalu saja begitu, di hari – hari kemudian. Dengan kalimat pembuka yang sama, diawali dengan sebuah salam, dan diselipi oleh tanda seru di final kalimat. Dan satu lagi, tentunya dengan menulis akhiran namaku dengan abjad konsonan. Terkadang juga alphabet yang selalu berlebih dua abjad yang tertera pada namaku. Ceria sekali kelihatannya, padahal juga beliau yang diseberang sana mengetik pesan dengan nada biasa saja. Atau mungkin dengan wajah datar, pikirku ketika itu.
Pernah pada suatu hari, saya duduk untuk mencoba belajar. Menghafal yaitu hal termalas yang harus dilakukan. Namun sebuah pesan sapaan itu datang. Mencoba menahan senyum, namun apa daya. Buku Lomba Kompetensi Siswa yang saya abaikan semenjak tadi, ku ambil juga akhirnya. Semacam sihir, tapi terdengar berlebihan. Hanya dengan sebuah pesan, menciptakan seorang anak semangat untuk belajar. Ditambah dengan sebuah emoticon. Tenang, ini bukan emoticon biasa. Emoticon ini populer pada masanya. Biasa ditemukan di sebuah sosial media berjulukan twitter. Dan penggunanya kebanyakan dari orang yang menggunakan berry hitam. Senyumku makin mengembang, ketika itu. Iya, ketika itu saja.
Permainannya telah dimulai. Sebuah plastik bertengger di sebuah motor yang sedang saya pinjamkan kepada temanku. Teriakan sobat terdengar hingga lantai dua. Karena takut tertangkap tangan sobat lain, yang padahal tidak tahu itu bingkisan dari siapa, bingkisan itu saya simpan di loker sekolah hingga nanti pulang. Ternyata sebuah oleh – oleh. Terimakasih banyak ya.
Saat masih di basecamp pengurus anak gajah, ada sebuah pesan masuk. Mengajak pulang bersama katanya. Tapi tetap, beda kendaraan. Dia ikut ke jalan yang biasanya saya lalui untuk pulang, diselipi beberapa dialog di tengah perjalanan. Dasar manusia. Kalau ingin ngobrol ya berhenti, bukan di jalan. Tapi tetap saja dilakukan. Khilaf, namanya juga manusia. Tak lupa pula dengan mencicipi sentoran AC dari sebuah mall berjulukan Sri Ratu sepulang sekolah di teriknya siang hari. Salah satu hal yang dinanti, iya, AC-nya.
Di sela – sela waktu senggang, kami pergi ke sebuah tempat. Tempat dimana beliau pernah bermain disana. Padahal jarak yang ditempuh cukuplah jauh. Bodohnya aku, ketika itu. Menyusuri jalanan yang pinggirnya dipenuhi bambu, sempat tersesat di sebuah gang, hingga sampailah kami ke daerah itu. Sebelum pergi, kendaraan kami di rantai terlebih dahulu. Cukup was – was, tapi ya bagaimana lagi. Akhirnya kami pun berjalan. Bertemu dengan seorang nenek yang bertanya kepada kami. Dia yang telah bersahabat dengan daerah tersebut eksklusif reflek menjawab, “badhe mlampah – mlampah”. Kanan kiri penuh dengan rumput. Rumput yang tingginya hampir ibarat kami. Benar – benar ke entah berantah.
#np Banda Neira – Ke Entah Berantah
Yak abaikan.
Taukah daerah apa yang kami kunjungi? Sebuah sungai. Dan beliau pun berenang kesana kemari. Tanpa takut digigit ular mungkin? Atau bahkan buaya? Namun, pasir disana benar – benar lembut. Selembut coklat yang dihidangkan di pinggir sungai, ditemani beberapa kupu – kupu kuning yang bergerombol, pada ketika itu. Akhirnya kami pulang. Tak lupa, sebelum pulang kami makan. Karena ketika itu benar – benar lapar.
Di istirahat kedua ketika sekolah, sehabis dari kantin. Sebuah boneka yang tidak tahu itu milik siapa, ada di sebuah motor yamaha berwarna putih. Itu motorku. Dan bonekanya? Aku juga tidak tahu. Mungkin beliau milik seseorang, namun tertinggal, pikirku ketika itu. Dicarilah tanda – tanda disekitar boneka itu, namun juga tidak ada tanda yang tertinggal. Nggak lucu parah, sambil ngomel sendiri. Tapi, sebuah senyum ada pada ketika itu.
Bingung untuk balas dendam. Akhirnya pada ketika ulangan tengah semester, di ketika semua anak sudah masuk, disobeklah sebuah kertas dari sebuah notes. Buru – buru alasannya yaitu semua penerima sudah masuk ke dalam ruang ujian, ditambah takut tertangkap tangan jika ada yang melihat. Dan fiola, selesai sudah. Digambarlah sebuah muka anak laki – laki, dibubuhkan juga beberapa kalimat, ditempelah ke beling helmnya. Tapi dengan posisi beling helm yang masuk ke tempatnya. Saat beliau menutup muka dengan beling helmya, supaya bubuk tidak masuk mungkin ketika berkendara, dan..taraa! Kertas kecil itu niscaya terlihat. Cerdas tidak? Pasti jelas.
Di waktu senggang sekolah, sahabatnya sedari kecilnya datang. Kami bertiga melaksanakan nober, nonton bertiga. Setelah itu, sampailah kami di sebuah stasiun yang berjulukan Stasiun Tawang. Padahal, hanya ingin mengantar temannya untuk membeli sebuah tiket pulang. Epic memang.
Pernah juga kami mengobrol, mengenai Sang Pencipta. Hingga balasannya beliau bawakan buku, yang bahasanya Allahuakbar Lailahailallah bukan bahasa Indonesia sepertinya, namun menggunakan bahasa tetangga. Karena kata beliau bukunya bagus, makanya saya coba untuk membaca. Sulit. Iya, sulit. Sesulit mengerjakan ulangan fisika yang menerima nilai 50 kemudian remidi dan menerima 30. Lah, numpang curhat, haha. Sampai balasannya buku tersebut dikembalikan, sudah dibaca semuanya kok, seriusan. Bagus sih, lebih sulit dari Lomba Kompetensi Siswa Sejarahnya Bu Minion sepertinya.
Karena sudah selesai membaca, beliau bilang ingin meminjamkan buku lagi. Matilah aku. Semoga saja tak sesulit buku yang pertama. Masih ingat juga buku tersebut dibungkus plastik Indomaret. Saat pulang sekolah, saya melihat beberapa tutorial menciptakan pembatas buku origami. Buku ulangan saja belum tersentuh, apalagi buku yang beliau pinjamkan. Karena tiba – tiba teringat, diambilah buku tersebut. Tak sengaja, ditemukanlah beberapa pesan kecil dan pembatas buku yang memang sudah beliau siapkan. Gemas, ketika itu.
Twitter memang sedang booming ketika itu. Bukan kode, bukan curhat. Seriusan, hanya ingin bikin hal lucu – lucuan. Sampai balasannya terbesit untuk mengganti bio di twitter. Biskuat choco lover, tulisku ketika itu. Tapi, seriusan. Biskuit itu memang enak, masih pada ketika itu. Entah di hari berikutnya, ada sekotak biskuat. Iya, di motorku. Kotak besar, lebih besar dari yang setiap hari beli di kantin sekolah. Coklat pula. Haha, siapa yang tak senang? Karena tertangkap tangan oleh salah satu pengurus anak gajah, balasannya biskuat itu dibagikan.
Bingung lagi untuk balas dendam. Akhirnya, saya menemukan sebuah alamat rumah. Dibuatlah sebuah kartu, coklat (karena konon coklat menciptakan mood meningkat), dan permen. Dibalut dengan sebuah amplop coklat dengan aneka macam doodle. Dikirim dengan menggunakan jasa kantor pos, tak lupa dibubuhi sebuah perangko, dan dikirim ketika pertengahan ulangan tengah semester. Akhirnya hingga juga paket kecil itu. Terdapat sebuah pesan dari email, dari dia. Terimakasih, katanya.
Selalu saja beliau menyebut kata ritual. Ku pikir beliau memiliki suatu kemampuan. Ada ritual pagi, sore, malam, bahkan ritual bersama adik. Gila. Sampai balasannya saya bertanya. Dan diajaklah untuk mengikuti ritual. Sampailah di daerah gelap dan sepi. Ya Tuhan tolong lindungi, doaku ketika itu. Motor kami pun diparkirkan di daerah itu. Dan akhirnya, kami masuk ke sebuah rumah makan. Disuruh memesan, dan dua piring steak pun datang. Aku yang tak bawa uang lebih, pesan yang termurah dari semua makanan yang ada. Apanya yang ritual? Diambilah sendok dan garpu. Dilihatlah ekspresi wajahnya, senyum licik. Bodoh sekali ternyata, harusnya saya ambil pisau dan garpu saja. Sebuah tawa meledak. Akhirnya kami pun makan, diselingi beberapa obrolan. Dan itulah yang dinamakan ritual. Makan, supaya tidak lapar.
Sore itu, saya berjalan untuk menuju ke suatu tempat. Namun, tak pernah berharap untuk berpapasan. Karena apa? Ya apalagi, jika bukan resah harus berbuat dan berkata apa. Dan insiden itu terjadi juga. Aku melihat dia, beliau pun juga sama, dari kejauhan, dalam sebuah koridor kelas, yang tidak ada celah untuk berpindah. Sial sekali waktu itu. Bingung harus apa. Jarak kita pun kian dekat. Aku coba untuk sibukan diri dengan menekan tombol, dan menaruh handpohe di telinga. Padahal juga tidak tahu untuk menelpon siapa. Dia pun menyapa. Dan aku? Hanya mengangkat alis dan berkata ‘oy’ sebagai kata sapaan. Setelah itu kami pergi ke arah yang berbeda. Lucu ya, bagiku ketika itu.
Berlanjut hingga ketika itu mendekati tanggal kelahiranku. Aku pulang dengan ekspresi biasa saja. Karena memang tidak ada apa – apa. Padahal saya telah tahu, bahwa beliau sedang memesan beberapa postcards melalui e-mail. Kenapa bisa tahu? Panjang ceritanya. Esok, esok dan esok harinya, alasannya yaitu tiba terlambat, balasannya saya parkir di depan. Sengaja juga, beliau bisa menemukan motor yang biasa beliau tinggalkan sesuatu atau tidak. Suntuk sekali waktu itu. Dan benar kan, sebuah amplop besar tercantol di spion motor. Ada sebuah surat, origami, dan postcard pesananya. Dalam hati bilang, Ya Allah, You really made my day. For sure. Sambil senyum juga, ketika itu.
Perang versi anak sekolah menengah atas pun makin dekat. Banyak anak yang berjalan menuju ke masjid. Aku pun juga ikut. Selain doa dan ridho yang ditujukan untuk Yang Maha Esa, selalu saja saya menerima bonus. Entah melihat beliau sedang duduk di selasar, dengan wajah bersinar dan senyum mengembang, atau ketika beliau menggemakan takbir. Takbir dengan tangan bergetar, yang selalu menciptakan banyak pertanyaan. Kagum sih, tapi saya nggak boleh bilang. Nanti beliau besar kepala.
Perubahan dari beliau yang masih biasa, hingga sereligius kini menjadikan banyak tanya. Bagaimana bisa? Salah satunya, mungkin alasannya yaitu adanya tugas orangtua, atau memang usaha darinya pribadi. Banyak sisi positif yang bisa diambil. Hingga kini, sebuah kabarnya pun juga tidak tahu. Terbesit untuk menciptakan suatu prestasi, supaya beliau mengajak kerja sama juga, mungkin? Tapi tentu tidak mungkin, alasannya yaitu saya bukan anak riset wanna be.
Setiap pertemuan dalam hidup tidak ada insiden yang tiba hanya kebetulan. Setiap pertemuan niscaya akan membawa sebuah cerita. Entah senang atau petaka, yang pasti, menjadi salah satu pemain di dalam chapter hidup ini sangatlah bersyukur. Karena apa? Karena, salah satu dari perkataan atau perbuatan dari orang yang kita jumpa akan menghipnotis apa yang telah kita lakukan hingga sekarang.
Namun, berhubung beliau teramat baik, walau terkadang apa yang dikatakan suka nyelekit. Yang terpenting, meskipun sudah 2 tahun lebih tak pernah bertemu atau bahkan tak bertegur sapa, semoga selalu bertambah baik. Entah dari ilmu, kesehatan, atau..apa saja. Terserah dia, saya cuma bantu ucapan aamiin tertulus 2k17.
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar