Inilah Meetup Teman Sahabat Pena
Pernah tidak, memikirkan untuk bertemu dengan sesorang yang memang sebetulnya sudah sering kontak – kotakan. Sudah bertahun – tahun, tapi nggak pernah ketemu? Dan disaat sudah besar, akan direncanakan sebuah meetup? Rasanya bakal….malu – aib gimanaa gitu. Lol.
Kaprikornus ketika liburan semesteran di pertengahan tahun 2016, tiba – tiba seorang sahabat pena ngeline saya. Dia bilang jika beliau akan ke Semarang bersama sobat – temannya. Waaah seru! Kaprikornus guys, perkenalkan ya, semoga makin kenal makin di sayang. Ahay sa ae bos. Saya dan Melati. Kami mulai berteman semenjak lagi boomingnya sahabat pena di jaman kelas 6 SD, tepatnya di majalah Bobo, majalah favorite nun harganya yang sulit dijangkau ketika itu:”(. Saya iseng untuk mengirim surat bahwa ingin berteman dan blablabla kesannya kami kenal dan surat – suratan semenjak kelas 6 SD. Meski adanya perkembangan jaman, media gosip pun semakin mempermudah. Kami tetap masih kontak – kontakan melalui media umum yang kami punya. Dia pun juga kenal dengan adik saya, begitu juga dengan sebaliknya. Kalau ngobrol serasa bersahabat padahal ketemu aja juga nggak. Kami juga sempat berencana untuk meetup, ketika saya di Jakarta ataupun sebaliknya. Namun hal itu tak pernah terwujud alias semua cuma wacana.
Hingga kesannya datanglah sebuah pesan bahwa beliau akan ke Semarang. Yakali ga gas. Bayangkan cuy, 8 tahun saling chat – chatan tralala trilili nggak kepikiran untuk free call dan video call. Bahkan sms pun dijabanin. Akhirnya dengan menguatkan mental (berasa ketemu apaan lol) kesannya kami bertemu juga! Sempet deg – degan sih, bagai bertemu jodoh (padahal jodoh pun lum tau yang mane). Abaikan. Saya jemput Melati and friends di Tembalang. Cukup lama, kesannya beliau muncul juga. Destinasi kami yang pertama ialah mengunjungi Eling Bening. Tapi sebelum itu, saya mengajak Arin juga semoga rame. ((sekalian dibakar aja woy semoga rame cetar membahana)). Oke, abaikan. Saya menyarankan untuk berwisata di tempat bawah saja, alasannya untuk mendengar kata “Eling Bening itu merupakan nama tempat yang asing. Memang, pada ketika itu Eling Bening masih terbilang baru. Dan kesannya kami pun tetap pergi kesana. Dan did u kno? Pemandangannya sungguh luar biasa, the real kesejukan yang alami. Melalui Eling Bening, kita dapat melihat beberapa pemandangan rawa pening, jalanan menuju ke Eling Bening yang berkelok, dan ditambah suasana cuek – cuek empuk gimana gitu. Namun, alasannya kami tiba sehabis beberapa hari dari grand opening, banyak akomodasi Eling Bening yang masih di renovasi dan ditambah. Tapi, untuk pemandangan dan hawa bakal dapet sih. Ada tempat makan dan musholanya juga kok, so don’t worry. Recommended pokoknya! Oh iya, lupa. Untuk masuk ke Eling Bening akan dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,00/orang (sudah termasuk air putih).
Diperjalanan, kami juga kisah – kisah banyak hal. Mulai dari kisah surat – suratan, kemudian kisah Melati ketika bertemu dengan para sahabat penanya. Yak guys, sahabat penanya beliau tidak mengecewakan banyak. Mana ada yang cowo pula, padahal biasanya di dunia persuratan telah didominasi oleh kaum hawa. Lalu, kisah ketika saya ke Jakarta masih belum boleh untuk bertemu dengan Melati. Dikarenakan ketika itu lagi boomingnya orang diculik melalui pertemanan facebook. Jadi, orang bau tanah saya takut bahwa saya akan ditipu atau bahkan diculik. Lol, siapa juga yang mau nyulik:’). Hinga kesannya Melati ke Semarang dan kita bertemuuu! Melati ketika itu juga bawa kado untuk saya, speechless, alasannya saya ga bawa apa – apa untuk dia. Terimakasih banyak Meeel!
Yak lanjut. Perjalanan kedua kami ialah ke Vihara Budhagaya Watugong. Ini juga pertama kalinya saya kesini. Semacam Klenteng Sam Poo Kong, namun yang ini ada Pagodanya. Untuk biaya masuknya juga sukarela, mungkin dikarenakan disitu ialah tempat ibadah kali ya?
Karena hari masih cukup sore, belum malem (ceritanya pantang pulang sebelum malam), kesannya kami ke Simpang Lima. Sebelumnya kami jajan dulu di jajanan pinggiran dekat Taman KB. Setelah itu, kami jalan kaki dari Taman KB ke Simpang Lima. Yak, dapat dibayangkan betapa lelahnya kaki adinda #butuhtukangpijet #pijetforlyfe. Namun, demi sahabat pena apasih yang ga #ceilah #pencitraan #nakaltapitampan #ggsmodeon. Yak, sekali lagi mohon abaikan.
Lalu mereka pada foto – foto di goresan pena Simpang Lima. Seumur – umur sehabis muncul goresan pena Simpang Lima, cuma sama mereka aja nih mau foto di depan tulisannya:’). Setelah puas untuk berfoto ria, kesannya kami pun pulang ke tempat parker, ke taman KB lagi. Jalan kaki. Sungguh tepos kaki adinda.
Di hari kedua, mereka jalan – jalan sendiri. Biarkan mereka berpetualang di Kota Semarang secara mandiri. Karena makin mandiri, makin seru katanya. Keesokan harinya mereka pun pulang. Sebelumnya, kami bertemu di tempat oleh – oleh Pandanaran dulu kemudian gres ke Stasiun Poncol untuk berpisah. Sebelum berpisah, kesannya saya kesampaian untuk ngasih beliau pigura dan foto – foto kita sewatku main ke Eling Bening. Meski bawanya bakal rempong, semoga suka ya Meeel!









Komentar
Posting Komentar