Inilah Pengalaman Pertama Kali Naik Gunung Prau Dieng #1
Di awal Januari, datang – datang ada pesan line masuk. Dari Nisul yang ngajakin jalan – jalan ke Wonosobo. Saya pikir kita bakal sekalian muncak, eh gataunya hanya ke tempat wisata yang ada disana. Rencananya kami akan pergi di tanggal 4, entah kenapa malah berubah jadi tanggal 3. Dan datang – datang juga rencana awal kami malah pergi…muncak. Gimana ijinnya ya ke orang tua, pikir saya waktu itu. Intinya rencana awal kami tetap pergi muncak, bila cuaca tidak mendukung ya kami hanya pergi ke tempat wisata yang ada disana saja.
Kami berkumpul di kosan Nisul. Oh iya finally sanggup juga jalan - jalan sama temen blogger ahay! (jangan lupa visit blognya nisul nisowl.blogspot.co.id ya guys!). Nisul bilang bahwa tanggal 5 Januari 2017 Gunung Prau ditutup selama 3 bulan. Namun sangatlah bersyukur sebab kami berangkat di tanggal 3. Setelah semuanya siap, kami bertiga (Saya, Nisul, Deandra) dijemput oleh Rico dan Fajri. Dengan melewati jalan Sumowono yang bikin mual setengah mati, hasilnya sampailah kami ke Wonosobo dengan 3 jam perjalanan. Kami mampir dulu ke Rumah Aziz sekalian istirahat dan menunggu Fajar dari Banjarnegara. Alhamdulillah kami juga disuguhi makan sama Ibunya Aziz, yummy parah! Terimakasih Jiz haha! Setelah makan, kami pun melaksanakan persiapan untuk muncak ibarat minjem sleeping bag, matras, dan tenda. Setelah semuanya siap hasilnya kami segera menuju ke basecamp Gunung Prau.
Ada beberapa anak yang memang gamau muncak, pengennya cuma jalan – jalan santai. Berhubung saya belum pernah muncak dan tampaknya ini merupakan satu – satunya jalan saya untuk muncak pertama kalinya (dan tampaknya juga ini yang terakhir sebab bakal dimarahin orang renta lol) saya pun nurut – nurut aja. Ternyata Alhamdulillah cuaca sangatttt mendukung. Padahal final – final ini sering turun hujan, kata Aziz pun waktu pagi di Wonosobo juga hujan deras.
Kami melaksanakan persiapan di basecamp hingga jam 17.30, sesudah itu barulah kami akan naik. Sebelum muncak, kami harus melaksanakan pendaftaran dulu dan membayar Rp 10.000,00. Dengan registrasi, kami pun juga sanggup tau ada berapa orang yang sudah naik ke atas. Pada ketika itu sudah 50an orang yang naik ke atas. Soooo, here we go! Medan pertama kami yaitu melewati tangga, dan itu sangat melelahkan hingga menciptakan saya mikir “tau gitu di rumah aja ya yummy huhu.” Tapi gapapa apapun yang terjadi harus semangat! #ONFIREMODEON. Tiba – datang juga muncul anggapan lain, “tau gitu saya tiap hari latian lari dulu di Tri Lomba Juang ya huhu.” (konon katanya dengan melaksanakan lari akan memperenteng kaki kita ketika muncak)
Untuk menuju ke Prau, kita akan melewati beberapa gubuk kosong yang fungsinya sanggup kita gunakan untuk beristirahat sejenak. Sembari menunggu adzan maghrib, kami pun istirahat disana. Adzan maghrib ketika dipuncak juga terdengar lama. Ketika satu masjid selesai, akan ada sautan dari masjid lain, begitu juga dengan seterusnya. Tapi gapapa, tandanya kami disuruh istirahat lebih usang #dasarlemahmodeon. Sembari beristirahat, kami juga tuker – tukeran cemilan penguat energi masing – masing. Ada yang bawa coklat, ada yang bawa sugus, dan saya membawa gula jawa (mungkin sewaktu saya pergi mama bakal mikir kemana aja gula jawanya kenapa sanggup berkurang banyak?!).
Hari pun semakin gelap, jarak antara pos satu dengan pos yang lainnya cukup jauh. Kenapa ga nyampe – nyampe yaAllah… Namun, sangatlah bersyukur sebab kali ini sahabat – sahabat yang ikut yaitu anak yang selaw. Makara ketika ada yang ngerasa ga kuat, kita sanggup istirahat dulu, atau mungkin yang ga besar lengan berkuasa sanggup jalan paling depan. Selain itu juga sanggup tuker – tukeran tas, ketika ada yang ngerasa bawaannya banyak, sanggup tukar dengan yang bawa barangnya dikit. Swupe dwupe Alhamdulillah. Selain itu kami sanggup menjumpai para rekan yang ingin naik ke Gunung Prau juga. Mereka kadang bilang, “Yuk Mas Mbak” dan kami pun terkadang menjawab, “Mari Mas Mbak”. Terkadang juga pada tanya asal darimana, kuliner favorit apa, jomblo atau nggak. Hehe bercanda. Karena hari sudah malam, jalanan pun semakin gelap. Kami hanya mengandalkan cahaya senter, selain itu juga rabaan tangan.
Semakin keatas, rintangan yang dihadapi juga kian sulit. Tapi tak sesulit mengerjakan ulangan Fisika kok, damai aja #lahcurhat. Semakin keatas, kami akan melewati akar – akar dan juga bebatuan. Karena saya ga pake sandal gunung, hanya menggunakan sepatu olahraga, jalanan yang dilewati cukup licin. (so, buat kalian yang merasa pemula ibarat saya dan pengen muncak, saran saya pake sandal gunung aja ya sebab kalo pake sepatu bakal licin:”)). Selain itu, semakin keatas juga udara semakin dingin. Kabut pun mulai turun, sehingga cahaya dari senter pun juga tak terlihat dengan jelas.
Capek banget sih, kenapa ga sampe – sampe ya? Sempet lemes dan takut kalo itu yaitu hari terakhir saya hidup, tapi apapun itu pasrah aja sama Allah. Karena apa yang dimiliki kini pun juga itu milik Allah. Yang terpenting, banyak – banyak doa saja pada ketika itu semoga diberi umur panjang.
Kira – kira ketika itu pukul 22.00 kami hingga puncak. Omg, finally God! Jalanan yang kita lewati cukup gelap, jadinya ga sanggup lihat apa – apa. Kami pun mulai memasang tenda dan memasak untuk makan malam. Setelah tenda siap, kami mulai memasak mie kuah dengan sosis. Eh ketika kami masak, datang – datang hujan turun deras. Akhirnya kami pun eksklusif masuk tenda. Kaki mulai cenat cenut, baju lembap banget, dan ditambah udara yang makin dinginnn! Makanan pun sudah jadi, dan hasilnya kita makan di dalam tenda dengan lahapnya. Yass, kami lapar.
Dikarenakan hujan yang tak kunjung reda, kami mencoba untuk tidur dengan menggunakan sleeping bag. Udaranya makin cuek dan kaki mulai sakit, jadinya tidur ke arah manapun juga tak nyaman ketika itu. Tapi kalo ga tidur, yang ada malah kaki tambah sakit. Akhirnya mau tak mau dipaksakan untuk tidur.
Waktu malam sekitar jam 2 saya kebangun. Kedinginan ketika itu. Akhirnya saya ambil kaos kaki. Iya, make 3 kaoskaki dan masih kedinginan. Mau tidur hadap kanan kaki sakit kedinginan, hadap kiri juga sama, hasilnya saya merem – meremin dan alhamdulillah tidur juga.
Tak terasa hari mulai pagi. Dari atas, kita sanggup melihat banyak macam. Dari lampu rumah yang berkelap kelip belum dimatikan, kabut yang mulai menghilang, dan matahari yang mulai muncul dari balik pegunungan. MasyaAllah, cantik banget parah. Meskipun melihat matahari terbit sambil nahan dingin, gigi bergetar terus semenjak bangkit tidur, dan kaki yang makin cenat cenut saking pegelnya, tak menciptakan menyesal melihat semua yang ada di depan mata ketika itu. Lebih erat pula. Benar – benar fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan? Biasanya ngelihat pemandangan ibarat itu di foto orang, di kalender, atau bahkan berdasar kisah dari para teman. Sekarang, sanggup lihat sendiri. Memang puncak merupakan hadiah dari insan yang berjuang. Hazeek berjuang, berasa perang lol.
Tiba – datang ada cita-cita ingin buang air kecil. Tapi ketika mulai diantar teman, orang pun banyak berlalu lalang. Akhirnya saya tahan hingga bawah. Makara tipsnya bila ingin buang air kecil, usahakan ketika malam hari. Karena apa? Orang – orang masih tidur, meskipun bangkit orang – orang niscaya tak akan melihat.
Negeri di Atas Awan
Ketika matahari makin keatas, suhu di kawasan tersebut berkembang menjadi tidak mengecewakan hangat. Yaiyalah, namanya juga matahari. Setelah cukup puas menikmati sang fajar, hasilnya kami mulai memasak. Menu di hari itu tetep, yaitu mie. Sejak ketika itu saya berjanji untuk tak makan mie hingga seminggu kedepan. Namun mie di pagi itu terasa spesial, sebab makannya bareng kamu. Iya, kamu. Ga deng, sebab makannya sama telur dan sosis goreng. Mie di hari itu juga tak hanya mie kuah, namun juga ada mie goreng. Selain itu kami juga susu coklat panas. Saya hanya cukup minum air putih saja, sebab susu panas di pagi hari bikin sakit perut #edisicurhat.
Karena kami masih belum puas untuk melihat sekeliling Gunung Prau, hasilnya kami para ciwi – ciwi mulai jalan – jalan. Para cowo ga ikut sebab mungkin mereka bosen kaliya? Secara, Fajar udah 7 kali naik Gunung Prau. Awsem! Ketika kami jalan – jalan, kami menjumpai rumput. Fyi, rumput merupakan kasur ternikmat di siang hari. Hangat dan empuk. Enaaak parah! Benar – benar, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?
Kami bertiga kembali ke tenda, dan tak disangka semua kompor dan sisa kuliner kami telah dibersihakan oleh Fajar, Rico, Fajri. Omg soooo baik sekali. Kami mulai merapikan tenda dan bersiap untuk pulang. Melewati jalanan yang semalam telah dilewati sanggup melihat bahwa, “seriusan medannya kayak gini?” Batunya terjal banget coy parah. Sempat terpleset berkali – kali. Nah ini, jangan lupa pake sandal gunung, guna banget! Fajar mulai menandakan jalan yang harus dipijak. Jalannya cepet, datang – datang udah di depan kemudian menandakan jalan. Yaiyalah udah ke Prau 7 kali berasa kayak mau main ke rumah temen aja:”).
Rumput yaitu tempat terenak ketika itu.
Saat pulang kami inginnya jalan lebih santai, minum lebih banyak dan sanggup bebas beristirahat. Barang bawaan kami juga tak begitu berat sebab air dan kuliner sudah mulai habis. ((oh iya, jangan lupa sampah – sampah dibawa kebawah dan dibuang ke tong sampah erat basecamp ya guyz)). Dikarenakan ingin buang air kecil dan kaki makin menjadi – jadi merupakan salah satu motivasi kami untuk segera turun ke bawah. Segera ke basecamp. SESEGERA MUNGKIN. Kalau disana ada jasa flying fox, mungkin saya yaitu salah satu penggunanya.
Di sepanjang jalan menuju jalan pulang, kami banyak menjumpai para pendaki yang memang gres mendaki. Di malam itu ketika kami mendaki, saya bersyukur sebab tidak menjumpai para pendaki yang turun. Karena hal tersebut memicu demotivasi. Mampus, apaan artinya tuh. Ya semacam kurangnya motivasi dan sanggup menimbulkan rasa pesimis sebab sahabat – sahabat yang lain sanggup pulang rumah, sedangkan saya? Naik sampe pos 2 aja ga kelar – kelar.
Ketika hingga di basecamp, rasa syukur memang ga ada habisnya. Karena apa? Apalagi jikalau bukan hasilnya saya sanggup buang air dengan lega. Kita mulai duduk – duduk di basecamp untuk istirahat. Kaki pun mulai cenat – cenut bila ingin duduk. Sama halnya dengan Rico, yang tak sanggup bangkit lagi sebab ke-enakan duduk. Sebelum itu, kami harus lapor lagi bahwa kami telah sampai. Mas - masnya bilang, katanya beruntung banget malam itu sanggup mampu sunrise, padahal di malam kemarin selalu ada kabut. Kata Fajri Fajar gitu. Super duper terimakasih ya Allah:')
Sembari istirahat, kami juga mampir ke warung yang ada disana, ngopi – ngopi dikit untuk memperhangat diri juga bisa. Bila ingin makan gorengan disana juga bisa, namun sayang kebanyakan gorengan disana banyak yang cuek atau bahkan melempem. Tapi don’t worry, sebab ibu penjualnya siap untuk menggoreng lagi. Mantaaaff! Disana saya dan Nisul memesan coffeemix. Nisul yang hangat dan saya yang benar – benar panas. Iya, ceritanya masih kedinginan. Sembari minum – minum hasilnya kami menyadari, kok sanggup gitu ya naik Gunung? Dan kini udah nyampe aja di basecamp. Alhamdulillah, terimakasih yaAllah. Terimakasih Fajar, Fajri, Deandra, Nisul, tanpa kalian mungkin saya hanya seonggok daging berlemak yang tak kan pernah menikmati ciptaannya Yang Mahakuasa macam ini. #melankolismodeon. Dan..tenang saja, sesudah saya pulang dari Wonosobo niscaya saya akan tetap bilang ke Mama. Setelah ngomong, verbal Mama kaget ketika itu, saya eksklusif dijitak. Tapi tetep, jitakan kasih sayang. Jangan ditiru ya, sangat tidak baik.
Malamnya kami berniat untuk istirahat di rumah Budenya Nisul. Istirahat sekitar 2 jam, hasilnya kami pergi lagi untuk mencari makanan. Kami memang anaknya gamau rugi wkwk jadi waktu kosong dihabiskan untuk jalan – jalan. Karena di wonosobo populer dengan sebuah Mie Ongklok, maka kami akan mencoba mie tersebut. Sumpe, habis dari kota ini saya berjanji untuk tak makan mie lagi. Sehat – sehat ya lambung dan ususku.
Setelah makan mie hasilnya kami berbincang sebentar sembari bermain kartu. Ngobrolin tentang, “kemanakah kita besok pergi?” Lalu kami tetapkan untuk tidur. Sehat – sehat juga ya, kakiku.
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar