Inilah 8jam Solo

Di pagi menjelang siang sesudah ujian olahraga, menyerupai biasa kami berkumpul di dalam sebuah warung yang teduh menentramkan, yang menjual banyak sekali makanan berjajar rapi di sudut lemarinya. Gondang margondang kesayangan. Duduk kemudian bercerita. Tentang rencana libur di pertengahan UTS diantara hari Selasa hingga Kamis. “Kita mau ke Jogja, berangkatnya Senin habis UTS.”, katanya. Terdengar mengasyikan. Dan tiba-tiba terbesit ide, “Bagaimana bila kita ke Solo? Tapi berdua aja, diem-diem.”, tawar ku kepada seorang teman. “Hmm boleh.”, tanggapnya.

Ku coba untuk selalu memendam segalanya. Termasuk rencana dalam berpergian, apalagi keluar kota. Karena usut punya usut menurut pada pengalaman sebelumnya, ketika seseorang menceritakan suatu rencana berpergian kepada orangtuanya, niscaya keeseokan rencana tersebut tak sanggup terwujud. Dan seseorang itu yaitu saya. Ketika saya menceritakan kesimpulan atas “gagalnya segala program mbolang” kepada Ayah, dia malah marah-marah. Katanya, itu yaitu kepercayaan yang tak perlu dipercayai. Jelas, haha.

Namun kesimpulan yang pernah saya buat itu memang tidak benar dan salah besar. Buktinya, liburan kemarin berhasil pergi ke Jogja, meskipun bilangnya di H-1 keberangkatan. Dengan pengalaman yang telah dibentuk pada sebelumnya, balasannya saya beranikan diri untuk bercerita mengenai kepergian ke Solo. Seperti biasa Mama menanggapi, “Kita lihat saja nanti.” Dan dilanjutkan dengan, “Nanti bilang Ayah dulu.” Tiba-tiba aroma ketidak ridho-an pun terkuak...

Line pun masuk. Teman saya bilang bahwa temannya yang berada di Solo akan pulang ke Jakarta, dan otomatis tidak ada yang akan mengajak kami jalan-jalan, dan otomatis rencana itu...gagal. Saya pun gemas. Kenapa? Kenapa ada aja halangan. Guru ngaji pun datang. Dengan mata berkaca, saya coba untuk mengeluarkan apa yang mengganjal. Kenapa? Kenapa harus gini, Tuhan? Lalu, Mama yang gres keluar dari kamar bersiap untuk pergi arisan berpamitan kepada anaknya. “Mah, saya nggak jadi ke Solo.”, kataku, dengan sedih, pasti. Dan dia menanggapi, “Alhamdulillah ya Tuhan anakku nggak jadi pergi.”, dengan muka berbinar, pastinya.

Because Tuhan would never put you in a situation you couldn’t hadle it, dan saya tau niscaya akan ada rencana Tuhan yang lebih indah. Entah kapan. Dengan muka memendam kesal, berakhirlah rencana itu.

Di hari Senin. Seusai UTS, kami mencoba survey untuk memilih dimana kami akan melaksanakan libur cuma-cuma. Kami mencoba untuk pergi ke tempat Gunungpati unuk melihat suatu tempat, berdirilah gazebo disana. Suasana dan suhu tak mendukung, kali ini Semarang lebih panas. Kami pun terpaku dan diam. Berandai-andai atas banyak sekali macam tempat yang akan kita pijak suatu ketika nanti, membicarakan kedekatan antara Semarang dan Solo, dan bimbang atas kesuwungan pada ketika itu. “Yaudah yok ke Solo sekarang, deket kok.”, celetuk seorang teman.

Adzan dzuhur berkumandang. Sambil berjalan, sambil mencari masjid. Niatnya sih sekalian mencari masjid yang akrab dengan supermarket tapi kami tak berpapasan. Cukup sedih. Lebih murung lagi bila kita mengundur-undur dzuhur dan tiba-tiba kami memasuki jalan tol yang salah. Tuhan pun memperingatkan.

Here we go di peristirahatan pertama, di sebuah mushola yang berada pada tol, balasannya saya menelfon Ibunda, memohon restu atas keberangkatan ini, and finally..., “Oalah jadi ke Solo? Hati-hati di jalan jangan lupa berdoa, ni Mama lagi belanja di Ada.” Dan bab inilah yang bikin cinta saya semakin meluap, alhamdulillah ya Tuhan :').

Kami berenam, sekumpulan para wanita yang tidak tau jalan menuju Solo (karena setiap perjalanan kami semua tertidur, dan itu kesalahan), balasannya kami beranikan diri untuk mengikuti papan penunjuk arah. Kami nyetir bergantian dibumbui beberapa kepanikan. Salah satunya yaitu ketika kami gundah dan tak tau arah mana yang benar, dan tibalah kami memasuki jalanan dimana jalanan tersebut dilarang dilalui oleh mobil. Awalnya biasa saja, tapi ada seorang pengendara motor yang memperingatkan. Dengan keraguan yang tinggi balasannya kami beranikan untuk putar arah. Saat perjalanan, “Tak ada polisi Tak!” kami semua panik. Dan ternyata, polisi itu menilang sebuah kendaraan beroda empat yang melewati jalan yang kita lalui tadi. “Mungkin kendaraan beroda empat itu ngikutin kita gara-gara kita lewat ke jalan ini.” dan lagi-lagi Tuhan selalu punya kejutan, alhamdulillah ya Tuhan :').

Mungkin kami lelah. Teman-teman memang belum makan dari siang, dan jauh-jauh ke Solo cuma buat makan itu keterlaluan. Akhirnya kami pergi ke Pasar Klewer, yang kata Mama saya ada tengkleng yang lezat banget. Sewaktu udah nyampe dan turun, ternyata tengklengnya abis. Sedih. Akhirnya kami pergi lagi dan cari makan, makan apa aja, yang penting murah haha. Sampai di penghujung waktu Ashar, kami menemukan warung lesehan seafood yang tampaknya enak. Lalu kami turun dan melihat daftar harga, ternyata.....mahal. Lalu kita gundah gimana caranya kabur, soalnya harga memang tak sesuai. Lalu saya sok-sok nyeletuk ditambah beberapa kedipan, "Duh mau maghrib, gimana kalo kita sholat dulu aja?". Dan teman-teman yang lain menanggapi, "Yaudah yok yok." Fiolaaa kita pergi dari warung tersebut hahaha. Selanjutnya kita mampir dari warung kesatu ke warung yang lain, dan alhamdulillah kita dapet warung yang kita inginkan. Dan alhamdulillah lagi, di depan warung tersebut ada masjid, jadi kita memang nggak sepenuhnya bohong, kan? Dan alhamdulillah lagi, teman-teman makan disaat yang shaum berbuka. Padahal niatan awal waktu otw berangkat pengen batalin aja hehe parah. Tuhan memang Maha Baik. 

Lalu kita pulang pukul 19.30, dengan perjalanan 1,5 jam kami hingga di Tembalang dan bersiap turun ke bawah menikmati anginnya malam. Lagi-lagi untuk segala syukur yang tak pernah habis, alhamdulillah yaAllah :')







Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

trend kacamata bulat

jual kacamata bulat di palembang

foto kacamata bulat putih