Inilah Destiny
Kali keduanya saya meminjam buku di perpustakaan rubah. Padahal buku pertama saja belum dikembalikan. Entah apa yang menciptakan buku ini menarik perhatian ketika saya mengamati puluhan buku yang tertata rapi di rak. Aahh, semuanya indah. Aneh memang bila seorang anak hanya menyukai puluhan rak buku dengan arsitektur dan tatanan yang rapi di sebuah perpustakaan atau toko buku. Mondar-mandir dari satu rak ke rak yang lain. Mencium aroma buku yang selalu menempel ditiap halamannya. Semua terlihat menyegarkan. Hiperbola ya? Gapapa, sekali-kali.
9 matahari. Secara kebetulan, atau memang ini takdir Tuhan? Takdir bahwa saya harus membaca buku ini. Membukanya pun membuatku mengantuk, apalagi membacanya?
Perkenalkan saja, dia seorang mahasiswa baru, Tari namanya. Kehidupannya cukup sederhana, sampai kesederhanaannya menciptakan keluarganya enggan untuk mendukung Tari melanjutkan sekolah, ke sebuah akademi tinggi. Kuliah masih menjadi barang mewah. Hingga penantiannya selama 2 tahun terbayar sudah, dia diterima sbg mahasiswi universitas negeri. Namun sayang, Kakaknya tak setuju, ibunya pun demikian, apalagi bapaknya, bisa2 ngamuk beliau. Lagi2 wacana apa? Yup! Kakaknya yang lulus dengan predikat cumlaude namun sulit mendapat pekerjaan, cap "sarjana tak selalu sukses" sudah tertanam di pikiran bapaknya. Dan selanjutnya wacana apa? Yup! Dana. Dengan bujukan final hidup Tari, kakaknya pun mencoba membantunya, dengan meminjamkan uang ke sahabat dan sanak saudaranya meskipun sangat supermega minim.Tari berangkat ke kota perantauan, dan berpesan kepada ibunya bahwa tolong beritahukan hal ini kepada bapak.
Semester demi semester dia lewati, sampai dia mencicipi kehidupannya menukik tajam. Dia hidup dari uang siapa? Makan pakai uang siapa? Padahal kiriman uang tak selalu ada. Yah sesekali kakaknya mengirimkan seratus lima puluh ribu. Namun ia tak mau pulang hanya untuk menampakkan kesulitannya, terlebih kepada bapaknya yang selalu saja marah. Marah mengenai kuliah. "Buat apa kau sekolah mahal2 dan lama? Kenapa ngga kau kerja di pabrik depan rumah, jika perlu bapak antar kesana sekarang" pikir beliau.
Disaat teman2nya kagum, heran pada mahasiswi yg bekerja sambil kuliah, Tari malah mencicipi kepedihan. Pedih alasannya pikiran harus terbagi dua, pedih alasannya honor yang ia dapatkan belum mencukupi, pedih alasannya dia lelah menanggung beban pikiran, pedih menanggung hutang, serba persoalan dan masalah.
Namun dari sebuah perjalanan panjangnya, sampai ia berhenti di suatu titik jenuh, dimana dia hanya sanggup menyalahkan keadaan. Menyalahkan nasib yang selalu diterimanya. Hingga kesannya tersadar bahwa ia saja selalu mengeluh tanpa memperbaiki relasi denganNya, selalu menantangNya, sadar bahwa Dia ingin lebih bersahabat dengan Tari. Mengirimkan beberapa ujian, supaya Tari selalu bersahabat denganNya.
Berkat usaha, doa, syukur, Tari pun berhasil lulus kuliah. Berhasil merubah nasib, mensejahterakan keluarganya. Because the things always happens that you really believe in, and the belief in a thing make it happen.
--
Kaprikornus teringat wacana rencana kuliah merantau. Bukan alasannya adik mau khitan lho ya sehingga saya takut untuk tidur sendirian, sejujurnya bukan itu, serius. Ya alasannya pengen aja dapet ilmu baru, orang baru, suasana baru, mencar ilmu jauh dari sebuah kemanjaan, mencicipi tantangan hidup, mengerti gimana rasanya dirindukan, bahkan menikmati rasanya pulang kampung. Karena cita-cita yang begitu tinggi, tiba-tiba saya disadarkan oleh adik saya, "Kamu masuk ips buat apa sih mbak? Biar nyari kuliahnya praktis kan?" Dan saya tersadarkan. Memang iya salah satu alasan saya masuk di jurusan sosial memang itu. Maafkan pendapat tersebut. Tapi dibalik semua itu.. masih ada aja rasa seperti, "Kok saya ngga berani nyoba buat masuk ke univ itu ya?" Dasar mental tempe :")
Rasa ingin, imajinasi, semua imajinasi itu tentunya masih ada. "Coba aja jika blabla, coba aja jika blabla, coba aja jika blablabla. So many blablablah." Semua penyesalan itu memang ngga ada habisnya, sampai memunculkan sebuah rasa yang berjulukan pesimisme. Tapi, apa iya kita terus-terusan menyesal akan sebuah pilihan dan takdir dari Tuhan? Apa kau mau protes atas apa yang udah terjadi kepada Sang Pembuat Skenario Terbaik? Yang ada malah skenario hidupmu ditambah makin sulit. Masih untung diberi rejeki, diberi orang renta yang mendukung kita untuk melanjutkan kuliah, dan yang paling penting nih : Masih untung diberi nafas.
Yang selalu diingat dalam hidup: Jangan suka melihat keatas, alasannya iri hati tak akan ada habisnya. Coba yuk kita sering melihat kebawah, menyadari bahwa kita ialah salah satu mahluk beruntung. Banyak-banyaklah bersyukur, nak.
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar