Inilah Gilar dan Ragil

Tubuh mungilnya merintih. Kulitnya yang kecoklatan menjelma pucat. Semua orang panik, terutama wanita itu. Seseorang yang sedari awal selalu menggerakan bibirnya, mengeluarkan bunyi dengan lirih dan perlahan, meminta sebuah usul biar dikabulkanNya. Hingga bunyi burung gagak pun terdengar masuk ke dalam gendang telinganya. Dan tamatlah sudah, selamat tinggal.


Semua perandaian itu selalu dirangkai. Andai saja kalau.. andai saja jika.. Hingga balasannya kita sadar bahwa inilah titik yang harus diikhlaskan. 


Punya abang pria tampaknya mengasyikan. Kita dapat bertukar cerita, bertukar pikiran, mencoba pengalaman yang menyenangkan, dapat diantar kemana saja, berjalan beriringan berdua, bertengkar kecil tiada habisnya. Semua perandaian itu kosong. Buat apa berandai kalau orang yang dibicarakan sedang pergi? Pergi menuju perjalanan panjangnya, bersama para malaikat kecil lainnya, bersiap menunggu sampai sangkakala dibunyikan.


Rencana Yang Mahakuasa selalu sempurna. Meski Gilar terpanggil olehNya, wanita itu selalu memanjatkan doa, bercerita, mengadu beberapa tema, hanya untuk kepadaNya. Hingga ketika yang dinanti pun tiba. Tibalah dia, Ragil. Yang semoga menjadi pelipur kedua orangtuanya.


Selamat bulan Oktober. Meskipun beda umur, beda dunia, dan beda nama, tapi mereka punya satu kesamaan, satu saudara.

Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

trend kacamata bulat

jual kacamata bulat di palembang

foto kacamata bulat putih