Inilah Hikmah
Hari itu, ibarat biasa lembur di malam hari mengerjakan UAS (Ujian Akhir Semester) secara online. Sebenarnya soal itu telah diunggah 2 ahad yang lalu. Hingga tengah malam, kesudahannya saya pending alasannya yaitu kantuk yang teramat, padahal hanya sanggup menyelesesaikan 2 nomor. Di pagi hari kemudian, dilanjutkanlah balasan tersebut dan kesudahannya selesai sudah, tinggal membubuhkan nama; nim; dan nama dosen. Karena saya tidak menghafal betul gelar beliau, dicarilah sebuah dompet yang isinya terdapat kartu ujian saya. Cari cari dan cari, hasilnya nihil. Waktu telah menandakan pukul 06.30 ketika itu, dimana saya harus bersiap berangkat alasannya yaitu ujian dimulai pukul 07.30. Dan keadaan bermetamorfosis kacau. Jawaban ujian belum di print, kartu ujian hilang entah kemana, dan suasana rumah yang tidak mengecewakan panas. Sambil mengingat-ingat apa yang dilakukan di hari sebelumnya, waktu telah menandakan 06.45 dimana saya hanya punya waktu 30 menit untuk perjalanan. Kacau sekali. Segeralah saya mengunggah hasil balasan saya ke email alasannya yaitu sempurna pada ketika itu flashdisk tidak ditemukan.
Melalui dzikir dan shalawat, kesudahannya saya berfikir, apa yang telah saya lakukan di hari kemarin? Hingga saya di uji dengan ujian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sampai di sebuah rental, dibukalah email yang tadi pagi terkirimkan. Menunggu loading agak lama, waktu itu pukul 07.20. Opened! Ternyata file itu yaitu file tadi malam. Yang semalam saya hanya jawab 2 nomor saja, yang sisanya masih banyak yang kosong. Kacau sekali hari ini. Berulang kali saya cek dan hasilnya nihil. Oke kali ini saya mencoba tenang, setenang jam yang sedari tadi terus berjalan, mencoba menemukan solusi dari problem yang lain. Fine, kertas balasan belum ada, problem selajutnya yaitu kartu ujian. Dengan tanpa kartu ujian, apakah sanggup mengikuti ujian tersebut? Secepat mungkin ku kirimkan pesan kepada abang tingkat ihwal kartu ujian yang hilang. Semoga itu menenangkan.
Di perjalanan menuju kampus, saya mulai berfikir lagi, mengingat dulu ketika Sekolah Menengan Atas yang dengan mudahnya meminta kartu pengganti, dengan mudahnya susulan ketika berhalangan, dengan mudahnya ijin alasannya yaitu belum siap ujian. Dan mendadak saya berhenti di pinggir Widya Puraya. Mencari gadget dan mengetikkan sesuatu di google, “kartu ujian uas hilang” “susulan uas di feb”, dan apapun itu yang sanggup menenangkan. Kali ini jujur, saya memang akal-akalan tenang. Ada niatan dan beberapa hal yang bikin takut untuk tiba UAS hari ini, pikiran untuk membolos pun berhembus juga. Apa iya saya harus balik ke rumah mengambil file kemudian mengumpulkan kepada dosen tersebut? Apa iya saya harus ikut susulan? Apa iya saya minta tolong Mama untuk mencari filenya, ngeprint, dan mengantar ke kampus? Ah mana mungkin…mana mungkin Mama tau caranya. Tapi jikalau saya minta tolong Mama, yang ada malah saya dimarahin. Padahal tadi pagi udah dimarahin. Bingung. Kacau.“Tapi…ah udahlah ga usah manja, hadapi yang ada di depan kini juga! Ga mau tau apa nanti jadinya!” tekad saya waktu itu. Agak alay ya, tapi dari pikiran itu yang menciptakan untuk melanjutkan perjalanan.
Saya memarkirkan motor di depan dekanat. Waktu menandakan pukul 07.25, saya tiba menemui siapa saya yang berada di dalam gedung menyeramkan itu. Terjadi pembicaraan hangat, dan..seram. Saya bilang bahwa kartu ujian hilang. Saya pikir akan semudah itu untuk mendapatkan kartu pengganti, tapi tidak. Harus mendapatkan surat kehilangan kartu ke polisi dulu lah, ke dekanat lagi, menyerahkan kartu mahasiswa, dan bebagai mekanisme yang benar-benar diluar kepala. Inikah yang namanya kuliah? Dengan waktu 5 menit untuk mendapatkan surat polisi, apakah mungkin semudah itu? Saya keluhkan kepada bapak tersebut. Bapak tersebut kesudahannya bilang, “Nanti kau pakai kartu flash atau kartu mahasiswa saja, serahkan kepada petugas. Nanti gres sanggup diambi jikalau ada surat kehilangan kartu ujian.”
Kali ini saya cukup berlega dan bersyukur. Saya sanggup ikut ujian, meski nanti harus pusing berfikir gimana caranya mendapatkan kartu kehilangan dari polisi. Saya mencoba tenang, untuk kesekian kalinya. Berjalan lemas menuju kelas, tanpa lembar balasan yang harusnya ada di tangan. Mencoba memahami buku yang belum terbaca semuanya, dan nihil. Pengen nangis, tapi apa iya harus sekarang? Ujian pun di mulai. Semua anak mengumpulkan printout lembar jawaban. Saya yang sedari tadi memegang kartu gemetar selalu memantau apa yang akan dilakukan pengawas. Pengawas itu menghitung printout tersebut. “Ini kurang satu lagi, siapa yang belum mengumpulkan?” tanya pengawas. Itu saya.
Menunggu beberapa detik, akhirnya saya angkat tangan. Berdiri, dan menjelaskan ihwal hal tersebut, termasuk kartu ujian. Sedikit gemetar. Bapaknya mengerti. Kartu saya diambil, dan kebetulan sahabat saya juga ada yang lupa membawa kartu. Jadi, apabila memang benar-benar disuruh untuk mencari kartu kehilangan, setidaknya saya punya teman. Tuhan Maha Baik, setiap saat. Saya masih sanggup mengikuti ujian. Dan kini problem yang belum selesai, lembar jawaban.
Ujian pengantar bisnis di hari itu cukup dimudahkan, oleh yang di Atas. Dimudahkan dalam membaca soalnya, dimudahkan dalam merangkai kata penuh basa bau nya hingga kesudahannya saya hanya sanggup menjawab 2 lembar. Padahal teman-teman yang lain sanggup hingga 4. Dan tiba-tiba pengawas pun mengembalikan kartu saya. Beliau tidak menyitanya. Tuhan memang Maha Baik. Dengan begini problem yang belum selesai yaitu printout lembar jawaban. Sisa waktu ujian tinggal 30 menit lagi dan semua orang belum keluar kelas. Dan sempurna pada ketika itu, kesudahannya saya memutuskan untuk keluar. Keluar dari kampus, dan mencari rental. Sebelumnya saya ijin kepada pengawas untuk ngeprint lembar jawaban, dan alhamdulillah diijinkan. Mana parkiran dan kelas agak jauh pula. Akhirnya saya lari, agak ngebut, dan berdoa, biar tidak jatuh naik motor. Setelah hingga rental saya ngetik secepat kilat. Dan waktu menandakan 09.25 dimana saya hanya punya waktu 5 menit untuk kembali ke kelas. Sembari menunggu hasil, saya meminta tolong kepada sahabat untuk mengamankan pengawas tersebut. Mengamankan dengan cara apapun, jangan hingga pengawas tersebut tlah mengumpulkan lembar balasan ke dekanat. Dan fiolaaa! Selesai sudah. Secepat mungkin saya menuju ke kampus. Sedikit macet, parah. Lalu lari menuju kelas, mengintip dari balik jendela dan…kelas sudah kosong. Dengan berfikir secepat kilat (eciye kilat) kemudian saya menuju ke dekanat. Untuk menuju ke dekanat, kita harus melewati perpustakaan. Dan ternyata…….pengawasnya sudah menunggu sangat sabar, menanti lembar balasan yang belum dikumpulkan. Eciye setia banget. Alhamdulillah, semuanya done. Saya mengucap terimakasih banyak kepada bapaknya hingga pengen sujud syukur ketika itu juga. Aaaaaaaah Tuhan superdupermega Maha Baik! Akhirnya saya menuju ke depan pintu kelas. Meletakan semua barang dan menitipkan ke teman-teman. Semua bertanya, “ada apa kau hari ini?” dan saya meninggalkan mereka ke kamar mandi, untuk menangis.
.
.
.
Ada banyak pesan dan pesan tersirat yang tiba di setiap kehidupan kita, dimana itu yaitu sebuah pembelajaran. Tergantung dari masing-masing individu, apakah mau mendapatkan atau mengabaikan pesan tersebut. Selamat menerima hikmah!
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar