Inilah Johar Terbakar

Setiap insan niscaya akan mendapat suatu musibah. Entah itu tragedi alam yang kecil, sedang, dan besar. Dan tentu, orang lain yang mendengar akan ada yang acuh, peduli, bahkan akal-akalan simpati. Masih ingatkah kau wacana tragedi alam yang terjadi baru-baru ini? Yang menciptakan ratusan orang menangisi atas “sebuah kejadian yang tak diinginkan”...

Di malam itu kira-kira pukul 21.30, saya tiba di rumah seusai bermain. Setelah sholat dan ganti baju, saya tetapkan untuk bersantai sejenak. Tiba-tiba, telepon rumah pun berdering dan segera diangkat oleh Mama. Mimik dan bunyi Mama pun berubah. Menurut saya, niscaya ada “sesuatu” yang tidak mengenakan di dalam percakapan tersebut. Mama pun bergegas dan berkemas-kemas untuk pergi, “Dek, jaga rumah ya. Mama mau pergi ke Johar. Johar kebakaran.”

Seisi rumah pun terkejut, begitu pula dengan adek sepupu saya yang memang berniat menginap di rumah. Ayah, Mama, dan Tante saya pun segera menuju ke Johar. Saya pikir itu hanyalah kebakaran biasa dan toko punya Mbah Kung terletak di dalam Pasar Johar, niscaya juga nggak bakal kena. Hanya kaget, mengucap innalillahi, usai sudah rasa tenggang rasa itu. 

23.30, saya memang belum tetapkan untuk tidur alasannya memang belum terasa mengantuk. Saya coba untuk mengetik dan browsing sejenak. Tiba-tiba adik saya berteriak dari lantai dasar, ia bilang, “Mbak Lita!! Disuruh Ayah ke Johar sekarang! Kuncinya Ayah ilang!” Lalu saya turun dan segera bersiap. Kiki yang sedari tadi riweh, ribet sendiri, ingin segera hingga kesana. Sok ide, pengen naik motor pula saking terburu-burunya, apa nggak gila.

Saya bilang “Selaw, sante, jangan kemrungsu. Kalo cepet-cepet nanti ada yang ketinggalan.” Saya agak panik juga waktu itu. Paniknya ya gara-gara kunci Ayah yang hilang. Sampai kerudung saya cuman disampirkan saja, ga pake di peniti. Seperti mbok-mbok jualan sayur ehe.

Akhirnya saya bagi tugas, saya bersiap dan adik saya mencari kunci serep mobil. Dan jadinya kita meluncur ke TKP. Ternyata.. semua yang saya pikirkan, lebih dari sekedar apa yang dibayangkan. Keadannya rame banget. Banyak orang-orang yang ingin melihat keadaan Johar, melihat kebakaran, hingga bawa anak kecil pula. ((Oh men plz kowe ki ngebak-ngebaki dalan))

Saya suruh adik saya untuk mencari dimana kendaraan beroda empat Ayah parkir, ternyata sempurna di depan kantor pos. Akhirnya adik saya turun. Dan saya..tenang aja masih ditemani seorang sepupu. Jalanan sangat ramaiiii sekali. Banyak kendaraan beroda empat pemadam dan orang berlalu lalang. Saya pikir api sudah padam. Akhirnya saya tetapkan untuk memarkirkan kendaraan dan turun untuk membantu apa yang seharusnya dibantu.

Ayah bilang bahwa kunci yang dibawa oleh adik itu salah. Nah kan dibilang juga apa jangan terburu-buru. Akhirnya Ayah pulang ke rumah, untuk mencari kunci, dan ditemani oleh adik saya. Dasar. Saya mendapat mandat untuk menunggu di kendaraan beroda empat Ayah, bersama sepupu saya (lagi). Batre handphone saya lowbat, dan akhirnya..do nothing. Saya tetapkan untuk melihat di sekitar, sembari di gigitin nyamuk. Ngelihatin orang-orang yang menunggui kendaraannya, orang yang bergotong membawa barang dagangan, orang yang menunggu “semoga becakkku malam ini laku”, bahkan ada yang bersiap memanfaatkan situasi yang ada (if u kno wht i mean)


Hingga pada suatu waktu, saya melihat seorang ibu yang terengah-engah berlari menyelamatkan barang dagangannya. Barang dagangan yang masih tersisa, sembari menangis..
Itu duka bangett... Ngga dapat bayangin lagi jika ada pedagang yang rumahnya jauh dari Johar, tidak punya kendaraan. Yang setiap harinya ngangkot dan sempurna malam itu tokonya habis terbakar.
---
Ayah pun berhasil mendapat kunci serepnya. Waktu telah mengambarkan pukul...2 pagi kira-kira. Saya bertemu dengan Tante dan Budhe saya, yang tentunya bercucuran keringat dan sangat kelelahan. Mama dan Tante tetapkan untuk melihat toko disisi lain. Saya nggak hafal nama tempatnya, pokoknya di tempat kauman. Dengan kecepatan secepat kilat kita hingga ke tempat yang ingin dituju. Dan jalanannya....sangat sepi. Seperti kota mati.

Saya ditinggal sendirian di dalam mobil. Sendirian. Di kota mati. Karena takut ada yang “aneh-aneh“ jadinya saya memanfaatkan batre yang tersisa untuk chat dengan seorang teman. Dan ternyata ia masih bangun:””) sehabis itu batre handphone habis, dan matilah saya. Untung Mama dan Tante segera datang. Lalu kita jadinya pulang ke rumah. Di perjalanan, kami melihat kendaraan beroda empat yang membawa barang banyak, dan Mama saya bilang, “pasti itu dari Johar.”

Tetiba di rumah, Mama teringat dengan tetangga kami yang juga memiliki toko di Johar. Kondisi rumahnya normal ibarat biasa. Mobilnya pun masih di rumah. Karena khawatir kok mereka nggak ikut riweh juga, Mama jadinya telpon pemilik rumah tersebut. Dan ternyata mereka udah tau jika Johar kebakaran. Jam mengambarkan pukul 3 dini hari dikala itu.

Keesokan harinya, masih dengan isu yang lagi panas-panasnya Mama saya bercerita. Tentang api yang benar-benar ada di depan mata, panas yang menyengat kulit, dan para pedagang yang hanya pasrah melihat tokonya terbakar.

Mengenai toko yang dimiliki tetangga saya? Itu semua udah abis. Ternyata api tersebut sudah ada semenjak jam 20.30. Bapak dari pemilik tersebut bersegera ke Johar bersama anaknya, dan ternyata tokonya telah dilahap oleh api. Anak dari Bapak itu ingin naik ke lantai dua (karena tokonya terletak di lantai dua), namun bapak tersebut nggak mengijinkan. Trus ya yaudah, mau gimana lagi. Yang dapat dilakukan hanyalah berpasrah diri sama Allah.

Jadi inget dulu sering banget diajak Mama muter-muter Johar. Dan Mama selalu tau seluk beluk jalannya. Dari mulai ngerti flatshoes hanya 50.000, baju dan tas yang murah meriah, es gempol terenak sejagad raya, toko bunga yang beraneka ragam, para pedagang yang selalu memperlihatkan dagangannya, para pencopet yang selalu berkeliaran. Dari yang mulai mencoba explore Johar sendirian dan malah tersesat di kumpulan kios bawang dan cabai merah yang baunya sangat menyengat. Padahal, gres saja kemarin merencanakan ingin beli ini, itu di Pasar Johar. Aaaah pasarku..


Masih inget banget di tempat sana ada bapak-bapak yang sukanya nawarin alat keperluan dapur dan rumah tangga kayak pisau, sapu, engkrak, sekop, dan banyaaaak lagi.

Tepat di depan toko itu, pedaganya gres saja kulakan untuk persiapan lebaran yang menghabiskan puluhan juta dan seketika semua barangnya habis terbakar. 

Semoga para pedagang yang ditimpa tragedi alam selalu diberi ketabahan, diberikan rejeki yang lancar serta secepatnya mendapat lapangan pekerjaan yang gres sehingga mereka tidak terlalu larut dalam kesedihan. Selamat malam.

Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

trend kacamata bulat

jual kacamata bulat di palembang

foto kacamata bulat putih