Inilah Part II - Naik KRL

Waktu di Semarang sebelum berangkat ke Jakarta, saya gres tau jikalau temen-temen cewe nggak pada pulang ke Semarang. Ha ha ha matilah awak. Akhirnya saya kisah ke Ratih, trus beliau bilang, “Yaudah main ke rumahku aja.” 

OIYAA GA KEPIKIRAN COYY

Hidup saya terselamatkan dikala itu. Saya mulai tanya ke temen-temen cowo yang di Jakarta. Sebenernya aba-aba agar dijemput, dan mereka semua ngga peka:”) Salah satu diantara mereka bilang, “Mending naik krl, trus turun di Bekasi. Ntar dijemput.” Oh meeen wud is krl?!

Makara dikala teman-teman mulai pergi ke tujuannya masing-masing, saya dan Dian diantar oleh Ricot's family ke Stasiun Pasar Senen. Setelah sampai, Mama Ricot masih mengingatkan mengenai rute krl yang harus saya hafalkan, dan menghafal salah satu hal sulit yang dilakukan. Sedih lah pokoknya. Dian pun meyakinkan bahwa krl itu aman. It’s ok Yan, it’s ok. Sebelum naik krl, saya minta tolong Dian buat nemenin beli tiket pulang dari Bandung ke Semarang. Awalnya saya mau nyoba beli manual aja dengan nulis nama kereta, nama asal stasiun dan tujuan stasiun. Dan ternyata...antrinya panjang banget. Ujung-ujungnya give up dan berdiam diri di dalam indomaret. Ternyata, dengan melalui Indomaret kita juga sanggup beli tiket kereta. Lebih mudah dan cepet deh pokoknya. Setelah menerima struck pembayaran tiket seharga Rp 230.000,00 untuk tanggal 5 Februari 2015, selanjutnya saya juga eksklusif cetak tiket agar sekalian. Karena saya udah dapet tiket pulang, Dian pun juga tetapkan untuk mencari taksi dan pulang ke rumah kakaknya. Oke fine, im alone. 

Muka "sok ngerti" sama keadaan Jakarta pun saya keluarkan HAHA. Bener-bener ngga ngerti harus apalagi coy, karenanya saya tetapkan untuk bertanya pada satpam wacana gimana cara untuk beli tiket KRL. Ini pelajaran penting banget, bertanyalah sebelum tersesat. Dengan baik hati bapaknya membuktikan loket pembelian tiket KRL. Dengan membayar Rp 8.000 saya mendapatkan sebuah kartu jaminan. Setelah itu..tik tok ga tau harus harus ngapain. PARAHH HAHA BUTUH MAMA:"
Tiket KRL

Dengan kesoktahuan yang super dahsyat, saya masuk ke sebuah pintu yang biasanya mendapatkan penumpang yang ingin masuk ke kereta dan bertanya kepada penjaganya. Ternyata pintu masuk untuk KRL bukan disitu. Oh men baiklah noprob. Untuk memastikan lagi, saya bertanya wacana rute untuk menuju ke Bekasi. Dengan mantap saya selalu menghafalkan nama stasiun yang sangat abnormal untuk didengar. Sambil mengulang-ulang “manggarai-jatinegara-bekasi” agar nggak lupa. Tiba-tiba masnya yang jaga bilang gini, “coba kalo saya libur neng, niscaya saya anter”. EEEEBUSEEET SEREM BOS.

Jadi, pintu masuk kereta biasa dengan kereta KRL itu berbeda. Kalau kereta biasa kan hanya membuktikan tiket dan KTP, jikalau pintu KRL kita hanya menyecan kartu jaminan. 

Akhirnya saya eksklusif cepet-cepet meninggalkan mas-mas yang bertugas dan bergegas menuju ke pintu masuk krl. Lorongnya sepiii banget dan hanya ada satu yang jaga. Tiba-tiba petugasnya bilang, “sendirian aja neng.” Ewoooy serem woooy. Saya eksklusif mempercepat jalan dan tetap memegangi tas selempang dan violaaa sampailah saya di peron krl. Saya duduk, dan mulai dilihatin sama orang-orang di sekitar. Saya tetep megangin tas, dan ternyata mereka fine-fine aja ahehe. 

Kereta KRL cukup unik, pintunya sanggup terbuka dan menutup sendiri. Kursinya juga menyerupai kereta di Jepang #maafkampungan. Oh iya, sewaktu saya duduk tiba2 saya lupa kemana stasiun tujuan ke Bekasi. Tiba-tiba speaker stasiun suara dan memberitahukan bahwa kereta menuju Depok akan tiba sebentar lagi. Tentu saja saya tidak naik alasannya ialah tujuan saya ke Bekasi. Orang-orang pun pada berdatangan, stasiun pun menjadi ramai dan saya terselamatkan. Selang 30 menit, kereta dgn tujuan ke Bogor pun lewat, tentu juga saya mustahil naik kesitu. Kata Mama Ricot, paling ngga KRL itu 30 menitan kita udah sanggup naik ke daerah yang ingin dituju. Namun skg udah 1 jam. Karena ragu, saya pengen tanya ke bapak-bapak yang jaga. Namun alasannya ialah di dalam hati nurani saya sangat yakin bahwa ini bukanlah kereta tujuan ke Bekasi. Dan mendadak, orang yang rame2 bangkit dan duduk ini pada masuk ke kereta tujuan ke Bogor. Eebuset, orang2 sini rumahnya Bogor semua kali yak. Karena semakin sepi, saya pun semakin ragu. Akhirnya saya coba bertanya kepada bapak2 penjaga.

"Pak, kereta tujuan ke Bekasi masih usang ga ya?"
Bapaknya bilang, "Lah ini keretanya dek (sambil nunjuk kereta kedua yang udah mulai jalan)"
"(Dalem ati: its baiklah pak, no problem, im fine tenan:")"

 Stasiunnya sepi, pengaruh dari ketinggalan kereta.
Its oke, ngga papa. Makara ternyata, kalo speaker pengumumannya bilang "Bogor", berarti tujuan selesai kereta tersebut menuju ke Bogor. Intinya, kereta tersebut punya tujuan selesai ke Bogor, namun akan melewati Stasiun Manggarai, dan Stasiun Manggarai ialah Stasiun yang harus saya lalui untuk menempuh ke Bekasi. Ribet uga yha. Karena geregetan, saya karenanya nunggu di sebelah bapaknya agar semakin safe. Akhirnya kami ngobrol2 dan saya dikasih beberapa rute yg harus saya hafalkan lagi. Thanks Allah, thanks bapake! You saved my life ahay!

Sewaktu menunggu kereta ketiga, saya melihat fenomena yang emm..cukup menyedihkan. Makara ada anak balita yang ingin buang air kecil, namun ibunya mengacuhkannya. Saking kebeletnya karenanya balita itu ngompol, dan ibunya hirau taacuh aja. Omg. Saking cueknya, ketika kereta tiba anaknya eksklusif digendong buru-buru. Hadeu, kenapa gitu ya ga diajak ke kamar mandi, atau mengganti pakaian balita itu dulu dengan pakaian yang kering. Kerasnya metropolitan.

Oke, abaikan curhatan saya diatas. Setelah kereta datang, saya segera mencari daerah duduk. Ternyata, daerah duduk antara pria dan wanita juga dipisah. Alhamdulillah, You saved my life again Ya Allah, ahay! Saya duduk, diam, deg-degan, sambil megangin tas slempang. Kereta pun berhenti di sebuah stasiun. Karena takut salah lagi, karenanya saya beranikan untuk bertanya. Ternyata ini ialah stasiun yang saya tuju sebelum menuju ke Bekasi, yaitu Stasiun Manggarai. Setelah turun, saya beranikan tanya lagi wacana kereta dengan tujuan ke Stasiun Jatinegara

Keretanya sepi dan dingin. Sedingin air hujan yang dengan riangnya turun #halah

Nah iya kan dingin abis ujan. 

"Pak, kereta tujuan ke Jatinegara kapan ya datengnya?"
Dengan santainya, bapak itu menjawab, "Lah itu dek (sambil nunjuk kereta yang gres aja nutup pintu dan eksklusif jalan)"

Ahehe nice. 

Dibelakang saya tiba-tiba ada segerombolan anak yang terdiri dari 5 anak yang juga mengeluh alasannya ialah ketinggalan kereta. Saya beranikan buat jb (join bareng) mereka. Saya membuka percakapan,

"Haha parah keretanya udah jalan"
(Masih ngomel2 sendiri) "&@$@&&@"
"Kalian juga mau ke Stasiun Jatinegara? Emang kalian mau kemana?"
"Ke bekasi hehe"
"Wah sama dong, kalo gitu bareng ya"
Dan kemudian mereka sibuk sendiri.

Abaikan jb gaje diatas. Yang penting kini ngga sebatang kara kaya hachi. Jadi, selama di kereta saya bareng merekaa terus. Tapi sayangnya, mereka ngga tanya balik. Mungkin mereka was-was kali ya kalo orang abnormal yang tanya-tanya gaje itu orang jahat, atau mbak-mbak perantauan dari desa, or what else yang bikin mereka hirau taacuh gitu.

Selama di kereta, alhamdulillah selalu kedapetan daerah duduk dan daerah yang sepi. Tapi dikala di kereta ketiga, keadannya rame bangett! Saya sampe berdiri, mana tas punggungnya berat. Yaudah nikmatin dan bayangin rasanya mudik mungkin menyerupai itu kali ya ahehe.

Waktu mulai liat goresan pena "Bekasi" rasanya seneng banget hahalay dasar #maafkampunganlagi. Berarti tandanya usai sudah petualangan saya bersama KLR tercinta. Lalu cepat-cepat saya ambil handphone dan mencari nomer seseorang, tapi ternyata beliau udah telfon duluan. Waktu keluar dari stasiun, sahabat saya mencoba dadah-dadah dari pintu keluar. Hahaha keren uy kaya di film-film. Dengan bertemu orang yg dikenal seenggaknya bikin hidup lebih tenang.

Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

trend kacamata bulat

jual kacamata bulat di palembang

foto kacamata bulat putih