Inilah Random

Secara nggak langsung, kesempatan berguru di dingklik Sekolah Menengan Atas tinggal sebentar lagi. Kalo lagi bareng temen-temen niscaya bakal tanya, “UDAH H-MIN BERAPA INI???!!!” Iya. Saya tau. Udah H-min berapa tapi nilai sama aja. Nggak sesuai ekspetasi. Perasaan juga udah belajar, doa, dan semacamnya, tapi.........oh God why oh no. Mungkin perjuangan dalam pencapaian sesuatu kurang sungguh-sungguh. But, I have a friend, she’s my classmate. Kita sekelas selama 2 tahun dan dikala saya melihat hasil ujiannya.....oh God.

Sekolah saya memang berisi bawah umur pintar. Tidak hanya bakir ding, juga cerdas. Menurut saya, mereka semua memiliki kelebihan yang istimewa. Namun sangat disayangkan bila rata-rata dari mereka semua tak memiliki rasa sosial yang tinggi. Kepintaran mereka hanya terpusat untuk kepentingan mereka sendiri. Tes demi tes telah kita lalui. Hasilnya pun mulai keluar. Ketika  kami berkumpul untuk berguru bersama, seseorang membuka pembicaraan. Sebuah topik hangat yang terpendam di hati. Mereka pun menyatakan pendapat yang sama, semangat berguru dan mengajari pun jadinya terkumpul. Hingga tiba-tiba ada suatu kalimat terbesit, “Buat apa sih bakir tapi rasa sosialmu sama dengan nol? Buat apa bakir tapi tidak bermanfaat untuk orang lain? Bukankah mengembangkan sesuatu yang baik ialah fitrah?"

Berhubung bentar lagi mau kuliah, sahabat saya pernah berpesan, “Hati-hati nanti jika udah kuliah.” Belum aja kuliah, berdasarkan saya ke hati-hatian itu harus muncul mulai dari sekarang. Udah kelas 3, temannya bermacam-macam kan? Mulai dari yang pikirannya sehat, pikirannya sakit, bahkan gilapun juga ada. Saya memiliki teman, dan ia suka membeli minuman keras. Dia meminum bersama kawannya, kemudian di post ke sosial media. Bagi seseorang yang jarang melihat insiden tersebut, terutama dilakukan oleh sahabat sendiri, rasa kaget niscaya ada. Dan yang lebih kaget, ia tidak sadar bahwa dikala ia meminum barang haram tersebut, ia sedang membawa sebuah agama. We see?

Ketika seorang sahabat wanita saya bertanya, “Heh! Kenapa kau meminum minuman itu sedangkan kau tau itu minuman yang diharamkan?”
Dan temanku menjawab, “Di dalam Al-Quran kan memang diharamkan meminum minuman yang memabukkan. Sedangkan alkohol yang terkandung di dalam minuman itu cuma beberapa persen. Padahal jika alkoholnya dikit, itu tidak memabukkan. Makara menurutku ya nggak haram.”
Dan dalam hati saya berkata, “Oh God.. Manusia macam apa ini.” Tidak hanya itu, beberapa “anggapan aneh” yang mereka buat juga beragam. Semisal lagi nih.

Teman saya bertanya, “Kalo kau minum minuman haram, berarti sholatmu nggak diterima dong.”
Dan sahabat yang lain menjawab, “Mau diterima atau nggak, yaudah. Yang penting saya udah sholat kok.”

Ya Allah....parah. Dan kejadian-kejadian di kelas itu cukup menampar bahwa, “Perdalam lagi ilmu mu, nak!” Alhamdulillah masih bertemu dengan insiden itu. Tandanya memang Tuhan masih ingin umat-Nya untuk berubah dan memperkuat diri.


Abaikan saja bila tak penting. Semoga ke-randoman ini segera menemukan pencerahan.

Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

trend kacamata bulat

jual kacamata bulat di palembang

foto kacamata bulat putih