Inilah Sahabat Pena
Berawal dari seorang sobat SD yang berjulukan Syifa mencoba mengirimkan surat kepada suatu majalah, yaitu majalah Bobo. Dan ternyata diterbitkan. Di halaman surat pembaca itu, kebanyakan dari mereka meminta seorang Sahabat Pena, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Sapen. Hingga jadinya surat-surat dari teman pena pun tiba dikirimkan ke sekolah (karena memang waktu itu Syifa mencantumkan alamat sekolah). Karena beliau pun malas akan hal tersebut, jadinya saya coba untuk kepo-kepo dan semua surat diberikan ke saya. Dan inilah awal mulanya saya mengenal apa itu surat.
Pertama kalinya mengenal surat? Surat cinta? Yaelah surat cinta, haha. Sesungguhnya ini hanya surat persahabatan, ceilah. Akhirnya saya coba buat balesin surat temennya Syifa, dan saya menyamar menjadi Syifa, alasannya yaitu sewaktu itu saya gundah menjelaskannya. Surat sapennya Syifa pun berdatangan sampai jadinya saya addict sama yang namanya perangko. Mulai dari perkenalan, sekolah dimana, masakan dan minuman favorit (mafa mifa), idola, tuker-tukeran foto, sampe jadinya curhat perihal sekolah. Sampai jadinya 1,5 tahun kemudian, saya dan mereka menyudahi perjalanan surat kami dengan tidak saling membalasnya. Mungkin alasannya yaitu kami sudah mengenal dunia internet sehingga lebih menentukan berkomunikasi melalui dunia maya, atau alasannya yaitu kesibukan masing-masing.
Dan kini sudah 6 tahun yang lalu. Nggak nyangka ya dulu melaksanakan hal-hal absurd, hal yang jarang dilakukan oleh belum dewasa di lingkungan ini. Yang dulunya bahagia sekali dikala pak pos datang, membawa surat kemudian duduk membacanya, menyiapkan beberapa kalimat bahkan paragraf untuk membalasnya, mendapat sobat dari luar kota, dan berharap sanggup bertemu dengan mereka. Mungkin nggak sih? Mungkin lah! Haha aamiiin :))
And then now it became my memories.
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
.jpg)


Komentar
Posting Komentar