Inilah Travelling Abal ke Jogja
Latepost sih, tapi nggak papa kan ya. Oke, selamat tiba di ahad tenang, ahad yang supaya menenangkan, ahad dimana ada seseorang yang menggebu-gebu untuk berguru tapi supaya itu semua tak hanya wacana. Ngomong-ngomong perihal liburan, jadi inget postingan ke Jogja yang belum sempat ke-post. Then, here we go...
Berawal dari planning kami yang telah kami susun sedemikian rupa semenjak kelas 10 yang selalu gagal hingga kami menginjakan kaki di dunia perkuliahan. Dimulai di kelas 10, saya dan teman-teman mulai membayangkan apa yang akan kami lakukan ketika liburan dan niscaya kalian tau hasilnya apa? Nihil. Hingga berada di penghujung kelas 12, semua anak mulai menyusun masa depan masing-masing. Mereka saling berguru dan mengejar apa yang mereka inginkan. Mereka saling menyibukan diri dan melupakan yang namanya bersenang-senang.
Perjalanan kita berawal dari Silka yang tiba-tiba nge-line saya. Membahas sesuatu hingga hasilnya menyerempet ke masalah liburan. Kita resah antara liburan ke Jogja atau ke Bandung, dan kami sama-sama belum pernah melaksanakan mbolang tanpa orangtua. Karena Bandung keliatannya lebih menarik, hasilnya kami bagi kiprah untuk cari gosip perihal Bandung. Dari aneka macam gosip yang ada, hasilnya salah satu sahabat saya bilang, "Bandung itu luas Tak. Bakal susah jikalau kau gres pertama kali tiba ke kota itu." Lalu hasilnya kami simpulkan, "Bye Bandung! Next time ya."
Dari Bandung, kami beralih ke Jogja. Dan ternyata, kami punya banyak masalah (haha apa banget dah). Mulai dari transportasi, kawasan menginap, tujuan wisata. Makara ternyata jikalau kita ingin berpergian banyak yang harus di urus, terutama hal yang udah saya sebutkan barusan. Ngga kayak pergi sama keluarga, semuanya di urus sama Mama.
Saya bilang ke orangtua sekitar H-1 hari, di sore hari, dimana saya sudah membeli tiket. Dengan pertimbangan yang sangat panas dan panjang....alhamdulillah diijinkan.
Kami nggak ngerti apapun perihal Jogja, alasannya ialah setiap kami ke Jogja, kami hanya tidur dan tiba-tiba sampailah kami ke kota ini. Payah. Untungnya Hudy juga ikut, selain untuk memenuhi kiprah ospeknya, dia juga menemani Silka. Its so lucu sekali. Jadi, kami ke Jogja naik Joglo Semar, shelter Pemuda dengan harga 75.000/orang. Jam keberangkatan Joglo Semar selalu ada di tiap jam nya. Kami berangkat jam 07.00 dan hingga Jogja jam 11.30. Begitu kita hingga ke Jogja, Hudy pergi dengan memakai taxi ke kosan Imbot, kemudian saya dan Silka hanya sebatang kara di kota orang. Kita ishoma bentar, hingga hasilnya kita bertemu dengan mas-mas rental motor. Sebelumnya, kami memang telah memesan motor untuk 2 hari. Kalau tidak salah sekitar 60.000/hari (24 jam). Motornya akan diantar serta dijemput dan kalian akan menerima akomodasi 2 helm dan jas hujan. Karena kita ialah amateur backpaker, kita juga agak takut bertemu, janjian, mesen-mesen dengan orang gila di kota yang gila pula. Dengan mengucap basmalah, hasilnya kita menyerahkan kartu identitas sebanyak tiga (bisa kartu pelajar, sim, ktp). Akhirnya, jalan-jalanlah kitaaaa!
Tujuan pertama yaitu ke kosan Imbot, alasannya ialah hanya itulah kita tau arahnya. Jalanan Jogja agak membingungkan, beda dengan Semarang. Kalau di Jogja, jalan antar kendaraan beroda empat dan motor dipisah sehingga kemudian lintas lebih lancar dan rapi. Dengan kesoktahuan yang membumbung tinggi, kita salah jalan haha. Setelah bertanya, hasilnya kita menyusuri jalan dan kelelahan, kemudian kita putuskan untuk makan di Padang Murah. Setelah makan, hasilnya kita nggak jadi mampir ke kosan Imbot dan pribadi aja kita muter-muter dulu. Sewaktu di jalan, kita melihat palang UGM, kemudian kita menuju kesana dan berhenti di Rumah Sakitnya. Duduk sebentar menikmati jalanan, sambil melihat peta. Karena kita belum sholat ashar, hasilnya kita masuk ke Rumah Sakit untuk bertanya dimana musholanya. Dan...tidak ketemu. Syem pun nelfon, kemudian kita turun menemui mereka. Ternyata kos syem dan rumah sakit nggak begitu jauh. Kita duduk, sholat, cerita. Dhea dan Fita dateng yehee makin rame. Berhubung mereka sibuk ospek. Akhirnya kita jalan-jalan cuma bertiga.
"menyusun strategi"
Kata orang nih, kalo belum ke Malioboro namanya belum nikmatin Jogja. Habis markirin motor, kita jalan ke arah Tugu, alasannya ialah kita belum pernah ke Tugu Jogja :’). Di perjalanan menuju Tugu, selalu ada angkringan di sepanjang jalan, jadi mereka makan sambil menikmati jalanan Jogja. Dan ternyata, perjalanan dari Malioboro menuju ke Tugu cukup panjang haha hasilnya kita makan di angkringan yang kami temui. Selanjutnya kami pulang.
Tugu Jogja!
Besoknya, kita mau pergi berempat. Saya, Silka, Firda, dan Syem. Dengan aneka macam kendala, salah satunya ialah kiprah ospeknya Firda yang belum selesai hasilnya kami membantu dia untuk menciptakan essay. Sebelum pergi, kita sarapan dulu dan ketemuan sama Bundoooo! Sayangnya Bundo nggak sanggup ikut, soalnya doi mau foto angkatan. Yaudah, perjalanan kita selanjutnya ialah Museum! Sewaktu perjalanan menuju Museum, saya dan Silka salah jalan, hasilnya kita harus muter jauh dulu gres ke Museumnya. Museum yang kita tuju ialah Museum Afendi. Jadi, Pak Afendi ini ialah seorang seniman, hobi ia suka melukis. Dari mulai lukisan, patung, baju beliau, hingga sendal ia disimpan dan dipamerkan di dalam museum itu. Tiket masuknya 10.000/orang. Apabila kalian membawa kamera akan dikenakan biaya. Seingat saya, kamera handphone 20.000/kamera dan kamera digital/slr 50.000/kamera.
Secuil kamar Firda yang berantakan
Ketemu sama Bundoooo!
Banyak Bekerja Supaya Panjang Umur ^^
Foto ini diambil ketika kita nggak tau jikalau bawa kamera akan dikenakan charge hehe, jadi kita cuma pake handphone nya Silka.
Setelah ke Museum kita ke Taman Pintar. Terdengar biasa ya, soalnya semua orang pernah kesini terkecuali saya dan Silka haha. Di Taman Pintar ada banyak wahana permainan, jadi ketika kalian masuk tiket masuknya akan beda di tiap wahananya. Karena keterbatasan waktu, kita hanya ke Planetorium aja. Selanjutnya kami ke Museum Vredeburg.
Dengan tiket 2.000/orang kami sanggup masuk di Museum Vredeburg! Disini banyak bangunan peninggalan Belanda (yaiyalah), ibarat di Lawang Sewu, Semarang.
Berhubung Firda dijenguk oleh Mumnya, hasilnya kita jalan-jalan bertiga. Dan berhubung ada beberapa hambatan yang mengakibatkan kita hanya akan pergi berdua, hasilnya kita tetap pergi bertiga. Jalan-jalan kali ini kita ditemani oleh Syem ke Taman Pelangi. Makara awal mulanya, saya ngelihat taman yang penuh dengan lampion dikala kita perjalanan ke kos Imbot. And taraaa jadilah kita kesini. Malam di Jogja itu sendu-sendu syahdu, dinginnya bikin rindu, tapi nggak tau rindunya ke siapa. Haha.
With Silka, partner travelller abal.
Keesokan harinya, waktunya kami pulang. Awalnya kami memang punya banyak rencana, dari mulai dari Jogja bakal ke Solo dan naik bis wisatanya Solo lah, ke Solo naik kereta lah, dan hal-hal imajinasi lainnya yang ternyata memang hanya sekedar wacana. Antara berani dan takut, kami menentukan untuk membatalkan planning ekstrim itu alasannya ialah kami sadar bahwa kami cuma traveller abal. Di perjalanan pulang, Silka kisah jikalau awalnya dia juga tidak diijinkan, berkat seorang bunda yang iba kepada anak perempuannya hasilnya ya..yaudah. Hahaha parah. Yang paling penting dari sebuah perjalanan ialah sebuah restu dari orangtua, terutama ibunda. Kalo untuk pemandangan, oleh-oleh, dan foto anggap saja itu bonus. Semoga bermanfaat!
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar