Inilah Untitled

Seorang anak pria telah tamat melaksanakan sholat maghribnya, beliau pun berdoa. Sama menyerupai yang dilakukan di setiap sholatnya, memanjatkan doa dan ungkapan yang ingin disampaikan untuk kepadaNya. Begitupun denganku. Dengan mata terpejam, saya mendengar suatu lembaran kertas yang dibuka oleh seseorang. Aku yang penasaran, kubuka mataku perlahan. Dengan lisan yang masih mengkomat-kamitkan suatu mantra, ku intip siapakah yang membuka lembaran kertas tersebut seusai sholat jama’ah waktu itu. Tumben banget, pikirku. 

“Yuk ngaji”, katanya dengan berbinar-binar. Aku yang merasa doaku memang belum rampung, sengajalah kupersingkat curhatku kepadaNya, demi seseorang yang berbinar itu. Kita pun membaca surah Al-fatihah dan mulailah kita mengaji. Aku yang merasa grogi, alasannya ialah memang pertama kalinya beliau memintaku untuk mengajarinya membaca buku terbaik di dunia ini, beruntung akan hal itu. Seusai membaca, beliau pun pergi menyopot sarungnya dan meninggalkanku. Aku terdiam, entah apa yang ingin disampaikan Tuhan ketika itu. 

Keesokan harinya, di waktu yang sama, seusai maghrib. Aku yang memang masih bercerita suatu diam-diam kepadaNya mendengar suatu bunyi yang sama di hari kemarin. Aku rampungkan doaku itu, dan bersegeralah saya mendekatinya, kemudian kita menyimak kitab itu bersama. 

“Sodaqallahul’adlim..”, kata kita bersama. Aku yang ketika itu ingin bergantian membaca tiba-tiba beliau mengangkat kitab itu. Aku pikir untuk ditaruh ke kawasan semula, padahal kan saya ingin juga membacanya. Namun, taukah kau apa yang terjadi? Dia menciumnya kemudian tersenyum menghadapku, menyerupai yang kulakukan sesudah membacanya. Aku yang memang menunggu kitab itu terkejut,....lalu tersenyum.

Semua pesan dari Yang Mahakuasa memang selalu sempurna. Aku yang ketika itu terkejut, ingin saja mengeluarkan bulir-bulir air mata. Karena apa? Karena hal itu ialah hal termanis yang pernah ada. Namun dibalik itu semua, Tuhan menyadarkan suatu pembelajaran bahwa jangan hingga kau mengundur-undur untuk membaca ulang aturan tajwid, alasannya ialah disana ada yang menunggumu untuk mengajarinya. Serius. Entah itu saudaramu, anakmu, suamimu, istrimu, bahkan ayahmu sendiri.

Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

trend kacamata bulat

jual kacamata bulat di palembang

foto kacamata bulat putih