Inilah Berbagi Ilmu
Sewaktu duduk di kelas 9 Sekolah Menengah Pertama, saya menjumpai orang-orang yang memang kemampuan akademiknya tinggi. Sifat egois dan individualisme ada di dalam beberapa anak. Keseriusan dalam mengejar sasaran menciptakan beberapa anak tersebut lupa diri sehingga rasa egoisme itu muncul, yaitu ketidak ikhlasan dalam mengajari sahabat yang lain.
Sifat orang memang beda-beda. Tergantung dari harapan dan kebutuhan. Terkadang ada seseorang yang malas untuk membuatkan ilmu, ada yang membuatkan ilmu namun tak disertai rasa ikhlas, ada yang bersemangat dalam membagi ilmu, ada yang hirau tak acuh, dll.
Sangat disayangkan apabila mereka yang mempunyai ilmu lebih namun enggan untuk berbagi. Tiap orang memang mempunyai mindset masing-masing. Ada yang mengatakan, “Ilmuku ya ilmuku, ilmu-mu ya ilmu-mu. Buat apa saya mengajarimu jikalau hal itu akan membuatmu semakin pintar? Bukankah hal itu akan merugikanku?” Itu ialah pernyataan yang bodoh. Bagaimana bisa ilmu yang kita miliki kemudian kita ajarkan kepada orang lain itu akan merugikan kita? Sehingga menumbuhkan rasa iri dengki apabila orang lain mempunyai ilmu yang kita ketahui? Bukankah itu merupakan suatu bentuk sodaqoh? Apalagi menciptakan orang lain lebih bisa dan lebih baik lagi mempunyai rasa senang tersendiri.
Ilmu itu beraneka ragam. Ada ilmu agama, ilmu pengetahuan, ilmu sosial, dan lain-lain yang menciptakan pengetahuan kita semakin luas dan menyebabkan kita sebagai manusia yang lebih baik lagi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat” (Potongan dari hadits riwayat Al-Bukhari No. 3461 dari hadits Abdullah Ibn Umar Radhiyallahu ‘anhuma)
Tapi, membuatkan ilmu juga harus bersyarat. Dalam artian kita tidak asal dalam memberikan ilmu tersebut. Jangan hingga kita membohongi orang yang akan kita beri ilmu. Bila kita belum cukup ilmu untuk menyampaikan, maka teruslah belajar.
Mengajarlah. Ajarilah temanmu sebagai ibadah dengan rasa ikhlas. Karena itulah yang akan menambah pengetahuanmu dan membuatmu semakin pintar. Tak perlu takut bila kamu mengajari temanmu wacana suatu ilmu. Ilmu yang ada dalam dirimu tak akan hilang, malah akan terus bertambah. Selain itu juga membantu teman-teman yang lain dalam memperoleh kebaikan.
Ilmu itu hakikatnya mengalir. Mengair dari seseorang yang tidak tau akan menjadi tau, dan terus menular kepada orang yang menginginkannya. “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga kasus (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).
Sebenernya semua orang itu sama aja. Sama-sama masih belajar. Semangat dalam memperoleh ilmu dan jangan lupa ajarkan kepada orang lain. Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang tak merugi. Aamiin :D
Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar