Inilah Sugesti

Banyak dari kita yang terlalu memanjakan diri terpengaruhi sugesti yang dilahirkan di pikiran kita., sehingga sugesti tersebut tumbuh dan saling menguatkan. Antara impian dan bayang-bayang sugesti. Yang bahwasanya kita mampu, namun kita menolaknya.

Seperti misalnya memakan obat tablet. Banyak dikalangan teman-teman SMA, bahkan saya pun juga terpengaruhi sugesti tersebut. Ketidak bisaan memakan obat tablet semenjak kecil terus tumbuh sampai sekarang. Seperti yang saya lakukan dua hari yang kemudian yaitu memakan obat tablet flu yang berukuran tidak mengecewakan besar. And finally I did it. Obat itu berhasil saya makan sebanyak 2 tablet dalam 2 hari. Ketika saya mencoba untuk obat yang ketiga di hari ketiga, saya mencoba dengan memadukan martabak coklat sisa semalam. Oke obat masih belum tertelan. Gagal. Lalu saya keluarkan obat tersebut. Sebegitu menjijikan niscaya yang membaca :p kemudian saya coba untuk memakan kornet. Obat tersebut masih belum tertelan. Gagal. Lalu saya keluarkan obat tersebut. Dan ini yang ketiga. Saya mencoba memakannya dengan martabak telur. Ketika mulai menelan, saya pun agak tersedak dan terbatuk-batuk dengan benda yang berdasarkan saya berukuran cukup besar untuk pribadi tertelan di dalam tenggorokan saya. Dan ketika saya minum, obatnya masih untuh....didalam mulut. Makara sesuatu yang menciptakan saya tersedak itu bukanlah obat, namun daging dari martabak telur tersebut. Tapi kali ini obatnya terbelah menjadi 2 dan itu menciptakan semakin pahit. Oh God......akhirnya di hari itu saya nggak jadi minum obat sampai sekarang.

Padahal sesungguhnya saya sanggup menelan beberapa agar-agar tanpa dikunyah. Bahkan permen pun juga pernah saya telan. Apakah itu merupakan sugseti bahwa obat itu pahit dan besar sehingga tak ada keberanian untuk menelan? Padahal problem dari obat tersebut ialah ukurannya yang besar, bukan dari problem pahitnya.

Yang kedua, jarum suntik. Banyak dikalangan teman-teman Sekolah Menengan Atas *hahaha membela diri* dan termasuk saya tersugesti menghindari barang tersebut. Padahal sesungguhnya kecepit pintu itu lebih sakit dibandingkan disuntik. Dan sesungguhnya sariawan di dalem verbal selama seminggu lebih sakit dibanding suntik. Apakah hal ini bekerjasama dengan pengalaman jelek dengan jarum suntik?

Ketika melihat teman-teman yang sudah berumur 17 tahun melaksanakan donor darah, menyerupai ada rasa aib dan takut. Kenapa malu? Ya sebab saya 17 tahun dan mereka juga. Apa bedanya? Kenapa nggak bisa ikutan nolong orang yang lagi membutuhkan darah? Mereka yang keluar dari UKS membawa snack masakan sambil memegangi tangan dengan kapas bekas suntikan jarum yang menyedot darah mereka. Takut? Ya sebab saya takut apabila saya ikutan, disana malah merepotkan. Nggak ada yang tau kan nanti saya jadi apa sehabis jarum itu memasukan dirinya kedalam kulit? Senang? Gembira? Riang? Lemes? Pingsan? Atau mati?

Saat MIB atau bahasa kerennya Muteri Imam Bonjol. Jadi, MIB ialah tradisi olahraga di sekolah saya ketika awal tahun pelajaran dengan berlari memutari jalan Imam Bonjol. Seperti biasa, kalau pria batas ketentuan minimal harus diatas 12 menit dan wanita 17 menit.

Dulu sewaktu duduk di kelas X, urutan MIB saya hampir rendah. Kebanyakan jalannya sih hehehe. Ya sekitar 17 menit kebawah, padahal temen-temen yang lain pada 16 keatas. Akhirnya remidi. Tapi sewaktu lari, saya berusaha menyalip seorang abang kelas yang memang larinya stabil. Namun ketika saya mulai untuk banyak berjalan, abang kelas itu menyalip saya dengan lari stabilnya. Hingga kesudahannya saya gagal untuk menyalip balik sebab ia terlalu jauh untuk saya raih *halah*. Di kelas XII saya mencoba dengan trik abang kelas tersebut, dengan lari stabil. Awalnya emang beneran sumpah capek bangeeeeeeeeeeet, dan kesudahannya gue bisa nyalip temen saya yang tadi di awal yehehe. Seperti biasa, saya juga jalan waktu itu, padahal sebenernya sanggup.

Sebenernya kita semua itu sanggup. Kita semua itu bisa, bisa berlari diatas 17 menit, MIB dengan lari stabil. Ya sebab itu, sugesti yang menciptakan pikiran kita buat bilang, ”Capek lho....nanti kalau jantungmu berhenti gimana?” atau bilang, ”Kalau udah capek tu nggak usah dipaksain, orang temenmu masih banyak dibelakang.”

Dan masih banyak teladan lain mengenai sugesti yang telah mengendalikan badan kita. Sepele sih, tapi dampaknya luar biasa. Pernah denger kutipan gini, ”Bersikap keraslah kau pada dirimu sendiri, maka kehidupan akan lunak kepadamu dan bila kau lunak pada dirimu sendiri, maka kehidupan akan keran kepadamu.” Yang penting lakukanlah semampu kita. Jangan terlalu memanjakan diri sendiri, apalagi kini udah kelas 12, harusnya lebih tau diri. Boleh sih memanjakan diri menyerupai melaksanakan refreshing, tapi berdasarkan kadar dan kebutuhannya aja. Ya intinya, jangan terlalu memanjakan diri sendiri. :D

Sumber https://nurmalitarh.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

trend kacamata bulat

jual kacamata bulat di palembang

foto kacamata bulat putih